Nasionalisme Dan Kemerdekaan Indonesia

Oleh : Syeikh Muhammad Bin Ali Bin Muhammad Ba’athiyah
Pimpinan Ribath dan Fakultas Syariah Imam Syafi’i, Mukalla - Hadhramaut – Yaman.

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kecintaan pada tanah air adalah suatu pertanda keimanan dan telah menjadikan hal itu sifat dasar pada setiap manusia, bahkan pada semua mahluk hidup. Yang mana setiap orang merindukan Tanah Airnya, di mana dia dilahirkan di sana dan bertumbuh kembang.
Sholawat serta salam semoga terlimpahkan kepada mahluk Allah yang paling mulia Baginda Muhammad s.a.w., seorang yang sangat mencintai dan dicintai oleh hati segenap manusia yang beriman kepadanya, mepercayai risalah yang dibawanya. Dicintai hati segenap orang yang menempuh sesuai dengan pedoman yang diajarkannya serta hati segenap orang yang selalu terhubung kepadanya di alam ini atau bahkan di dua alam ini. Karena Allah s.w.t. memperkenalkan alam ini kepada kita dari bagian atas hingga bawah dengan perantara NabiNya s.a.w., sehingga Nabi s.a.w bersabda: “Dahulu sebelum masa kenabian, aku pernah melewati sebuah gang yang di dalamnya terdapat batu, batu tersebut memberi salam kepadaku dengan istilah kenabian, dengan berkata : “Salam kepadamu wahai Nabi Allah”.
Umat ini merindukan apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. pada mereka : “Aku diutus untuk menyempurkan akhlak”. Segala ahklak mulia itu terwariskan secara baik yang mana Rasulullah s.a.w membuat pondasinya, menguatkan dan menjelaskannya. Di antara akhlak yang telah ditanamkan kepada umat tersebut adalah cinta tanah air, karena sesungguhnya Rasulullah s.a.w. tidak pernah keluar dari kota Mekkah kecuali bila telah mendapatkan izin dari Allah s.w.t. Beliau merasa belum rela untuk berpisah dengan Kota Mekkah, karena itu adalah tanah airnya.
Sehingga Nabi s.a.w. bersabda ketika beliau sedang keluar dari kota Mekkah, sabda yang sangat masyhur yang menunjukkan akan naluri manusia yang lurus, sebuah naluri yang Allah tanamkan pada manusia yaitu sifat kecintaan terhadap tanah air. Walaupun pada dasarnya bumi Allah itu adalah tanah yang luas sebagaimana kita ketahui, yang serupa struktur dan segala hal lainnya.
Setiap orangpun menemukan atmosfer yang sama di tanah yang ia tinggali dan tempat lainnya, akan tetapi keterikatan seseorang dengan tempat dia tumbuh adalah naluri yang telah Allah tanamkan pada jiwanya. Bahkan Nabi s.a.w. memperkuatnya dengan menjadikannya sebagai akhlak yang baik, yang mana Nabi s.a.w bersabada : “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Inilah sabda beliau ketika keluar dari Mekkah seraya mengalihkan pandangannya menuju kota Mekkah : “Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah tanah Allah yang paling kucintai”.
Itu adalah tanah airnya, tempat tumbuh kembangnya Nabi s.a.w, tanah yang beliau rindukan selalu, yang Nabi bersabda akannya : ” Sesungguhnya kamu adalah tanah yang paling kucintai, andai kata pendudukmu tidak mengeluarkanku darimu, maka aku tidak akan bersedia untuk keluar “.
Ini adalah kecintaan terhadap tanah air, maka ketika ditanya: “Dari mana kalian memiliki kecintaan terhadap tanah air?”, maka jawabannya adalah : “Itu adalah naluri yang ditanamkan oleh Allah dalam sanubari setiap manusia bahkan setiap mahluk hidup”.
Lebih dari itu Nabi s.a.w memperkuat hal tersebut saat pindah ke Madinah, negeri hijrahnya. Ketika beliau dan sahabatnya sampai di Madinah, mereka merasa rindu terhadap kampung halamannya. Betapa banyak kitab-kitab sejarah yang mencerikatan kepada kita tentang rasa rindu para sahabat terhadap kampung halaman mereka, sampai-sampai di antara mereka ada yang jatuh sakit karena terpisah dari kampung halamannya. Tapi mereka malah tinggal di Madinah seperti yang disebutkan dalam kitab-kitab sejarah. Itulah keadaan psikologi yang menyelimuti seseorang ketika pindah dari kampumg halaman ke tempat lain untuk tinggal di sana. Itu adalah orang yang lurus pikirannya, adapun orang yang tidak lurus pikirannya ia tidak mempunyai kampung halaman, tidak punya keterikatan dengan tempat manapun. Bahkan ketika telah dipengaruhi oleh pikiran tertentu maka dia akan menjual tanah airnya, menghianatinya dan akan keluar dari garis naluri yang Allah karuniakan kepadanya.
Para sahabat menjalani malam-malam mereka dengan menyenandungkan suara kegelisahan dan syair-syair kesedihan yang mengingatkan mereka akan kampung halaman dan membuat mereka menjadi kian merindu. Sampai-sampai ketika Nabi s.a.w. melihat kerinduan menyelimuti para sahabatnya tersebut beliau bersabda dengan perkataannya yang terkenal dengan mengangkat kedua tangannya ke langit dan berkata : “Ya Allah sebagaimana Engkau berikan kami rasa cinta terhadap Mekkah maka berikanlah kami rasa cinta terhadap Madinah”. Di sinilah terjadi perpindahan dan inilah yang dinamakan dengan Tanah Air pengganti.
Nabi s.a.w. telah menetapkan bahwa ketika seseorang pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya yang mau tidak mau dia harus tinggal di situ dalam keadaan apapun, maka dia harus memperlakukan tempat yang dia tinggali tersebut sebagaimana Tanah Airnya. Menyambungkan dirinya dengan tempat baru tersebut dengan sebenar-benar hubungan.
Kalau bukan karna hal tersebut maka Nabi s.a.w. tidak akan mengangkat kedua tangannya berdo’a kepada Tuhan. Sedangkan Nabi s.a.w. dan para Nabi semuanya do’anya dikabulkan. DO’a beliau: “Ya Allah sebagaimana Engkau berikan kami rasa cinta terhadap Mekkah maka berikanlah kami rasa cinta terhadap Madinah”, agar mereka hidup di Madinah sebagaimana seseorang yang hidup di kampung halamannya sendiri. Sehingga dia mempunyai makna hidup dengan penuh keterikatan dengan tempat baru tersebut, maka dia tidak akan melalaikan tanah air dengan cara apapun kecuali orang yang tidak mempunyai nurani yang benar, yaitu orang yang terpengaruhi oleh pikiran-pikiran buruk atau terbujuk oleh hawa nafsu dan setan.
Oleh karena itu dari apa yang telah Allah patrikan di hati manusia tersebut, yaitu cinta tanah air dan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Nabi s.a.w. serta apa yang telah kami sampaikan dari sabda dan sejarah sahabatnya. Maka kita akan tahu bahwa harga dari sebuah tanah air adalah harga yang yang sangat agung. Yang bahkan sejengkal tanahnya pun tak boleh disalah-gunakan. Hal ini jika orang tersebut benar nuraninya walaupun dia bukan muslim, karena hal tersebut adalah fitrah yang telah Allah anugrahkan kepada manusia. Tidak ada yang menyalah-gunakan sebutir tanah tersebut melainkan seorang pengkhianat.
Maka dari itu seyogyanya bagi kita untuk waspada, kita tinggal di tanah air dan kita mempunyai tanah air. Kita harus memberikan hak-hak tanah air tersebut yang merupakan kewajiban kita. Oleh karena itu kita wajib mengabdi kepada masyarakat yang mana kita hidup di antara mereka di tanah air tersebut, dengan pengabdian yang sempurna.
Kita harus menjaga kesatuan tanahnya, menjaga kesatuan geografisnya, menjaga masyarakat di dalamnya secara keseluruhan. Menjaganya dari segala hal, bukan hanya menjaga dari para penjajah yang datang dari luar dan menguasai tanah air tersebut. Serta memerangi degradasi moral yang mereka bawa untuk memerangi tanah air kita. Yang pada perkembangannya mereka menyebarkan perusakan moral tersebut ke seluruh masyarakat, sehingga masyarakat keluar dari patokan etika yang berlaku.
Inilah yang dilakukan oleh penjajah ketika mereka memasuki negeri-negeri orang muslim atau ke negeri yang mereka jajah. Datang dengan membawa budaya baru, akan tetapi sebenarnya mereka membawa budaya yang malah merusak akhlak. Mereka membawa sesuatu yang mencerai-beraikan keadaan masyarakat dari ikatan, cinta kasih, etika dan landasannya. Inilah yang dilakukan penjajahan di seluruh negeri Umat Islam. Entah negeri-negeri itu ada di belahan timur, barat, selatan ataupun utara. Budaya yang merusak yang mereka tanamkan untuk melepaskan masyarakat dari landasan pokoknya. Landasan, kearifan lokal masyarakat dan etika yang diserap oleh generasi yang sedang berkembang.
Di lain sisi, para penjajah mengambil sumber daya alam negara jajahannya serta mengurasnya sampai habis, yang kemudian dibawa ke negeri mereka. Hal inilah yang terjadi di penjajahan yang masuk ke negeri kaum Muslimin. Baik itu penjajah Inggris, Belanda, Jepang ataupun Itali dan yang lain-lainnya dengan segala macam penjajahan. Mereka menggunakan pada diri mereka kata الاستعمار (Kolonial) dari kata إعمار (yang berarti membangun). Namun kenyataannya kedatangan mereka merupakan suatu kehancuran bagi negeri, kehancuran akhlak tiap individu masyarakatnya, kehancuran dengan pengurasan sumber daya alam negeri tersebut yang diambil dan dijauhkan dari bumi pertiwi ke negeri mereka. Betapa banyak negeri yang mereka masuki kemudian mereka lepaskan dari tatakrama, budaya, kesadaran, agama, adat istiadatnya, dan sumber daya alamnya.
Kemudian setelah itu terdapat penjajahan yang sangat berbahaya sekali, yaitu penjajahan pikiran yang mereka upayakan. Meskipun penjajahan pikiran tersebut dihasilkan dari negeri-negeri muslim karena rusaknya kaum muslimin di ufuk timur dan barat. Berikut ini yang semestinya bagi setiap orang yang memiliki kecemburuan terhadap negerinya, baik dia presiden atau pemimpin, menteri, budayawan, wartawan, insinyur, ataupun seorang dokter dsb. Maka hendaknya ia berhati-hati dari penjajahan pikiran yang menghancurkan masyarakat atau malah masyarakat yang mengadopsinya. Bahaya inilah yang menjadikan seseorang terlepas dari ikatan negerinya dan turut melucuti afiliasi (keterikatan diri) seseorang dengan negerinya yang kami jelaskan tadi, yaitu bagaimana keterikatan dengan tanah air itu tidak hilang dari hati Rasulullah s.a.w para sahabatnya. Tapi beliau malah memperlakukan tempat hijrahnya tersebut seperti tanah airnya sendiri. Bahkan memohon kepada Allah agar diberikan kecintaan terhadap tempat yang beliau tinggali, yang telah Allah gariskan sebagai tempat menyebarkan dakwah.
Hal ini sangat perlu diperhatikan. Terdapat suatu pikiran berbahaya yang mengancam kehancuran agama dengan membawa nama dan almamater agama itu sendiri. Kemudian pikiran ini masuk ke dalam masyarakat muslim dan mulai memisahkan hubungan persaudaraan, memisahkan kerukunan tetangga bahkan memisahkan hubungan anak dan orang tuanya. Sehingga masyarakat muslim pun menjadi masyarakat yang kabur dan tidak jelas serta penuh akan masalah.
Hilanglah sumber daya alam negeri, sehingga negeri tersebut menjadi makanan siap saji bagi mereka yang hendak memeranginya, baik perang pikiran, perang urat saraf, perang kebudayaan dan adat atau bahkan perang senjata dan bala tentara yang akan memasuki negeri tersebut. Sehingga engkau sudah tidak mempunyai rasa persatuan lagi, karena pikiran ini membawa almamater agama. Ketika pikiran ini sudah merong-rong masyarakat, maka rasa memiliki dan jiwa patriot mereka akan tercurah untuk negeri lain, perkumpulan dan pikiran yang lain pula.
Hilanglah rasa pengagungan dan penghargaan pada Negara. Tak terbesit pula rasa nasonalisme atau rasa khawatir pada negara. Sehingga engkau akan menemukan orang yang berkhianat pada negerinya adalah hal yang biasa selama keuntungan kembali kepadanya. Penyebabnya adalah otak mereka telah diracuni oleh pikiran yang demikian, yang menjadikan seseorang tidak lagi mempunyai ikatan dengan tanah yang ia hidup di atasnya.
Kalimat “Cinta tanah air” yang menjadi idium kebudayaan dan adat islam, bahkan sebagai idium agama kalimat “Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”. Kenapa cinta tanah air adalah bagian dari iman? karena yang menanamkan rasa ini adalah Baginda Nabi s.a.w. Beliau menanamkanya pada jiwa kita dan pada jiwa para sahabatnya, yang kita ketahui hal tersebut dengan dalil awal yang telah disebutkan.
Konon para sahabat ketika hendak tidur, mereka tidak bisa tidur karena kenangan-kenangan yang selalu datang karena pepisahan dengan negeri yang mereka cintai. Sehingga Nabi s.a.w. membaca do’a tatkala para sahabat mulai menetapi tempat tinggal baru mereka, Nabi Muhammad berdo’a kepada Allah s.w.t. agar menyembuhkan sakit rindu para sahabat. Berkat do’a ini, akhirnya Kota Madinah mulai dicintai oleh para sahabat.
Oleh karena itu, tatkala Nabi Muhammad s.a.w kembali ke Kota Mekkah dari Kota Madinah untuk menaklukkan Kota Mekkah, apa yang beliau katakan? Dan apa yang dikatakan penduduk Madinah pada Nabi?. Penduduk Madinah berkata: “Boleh jadi Nabi Muhammad akan meninggalkan Kota Madinah dan kembali akan tinggal di kota Mekkah”. Mereka takut akan perginya Nabi s.a.w. dari kota mereka, karena penduduk Madinah mengerti dan faham bahwasanya termasuk naluri manusia untuk mencintai tanah airnya.
Nabi Muhammad menjawab atas apa yang mereka khawatirkan “Al-Hadm, Al-Hadm” (Darah dengan darah), sampai akhir hadits yang Rasulullah sabdakan. Sebab Penduduk Madinah berkata pada beliau: “Boleh jadi Engkau akan menetap selamanya di Mekkah dan meninggalkan kami di Madinah”. Maka dari itu Nabi bersabda: “Al-Hadm, Al-Hadm”, yang artinya aku (Nabi) akan meninggal di tempat ini (Madinah) dan aku tidak akan kembali tinggal di Mekkah. Hal ini dikarenakan cinta penduduk Madinah pada beliau, namun di sisi lain Nabi Muhammad s.a.w tetap merindukan Mekkah dan selalu memandanginya dan beliau bersedih untuknya. Beliaupun bersabda: “Andai saja pendudukmu tidak mengeluarkanku darimu, niscaya aku tidak akan keluar darimu, demi Allah engkau adalah kota yang paling aku cintai”. Nabi bersumpah akan cintanya pada kota Mekkah.
Perhatikanlah!! cinta tanah air itu datang dari ajaran Nabi Muhammad s.a.w.. Dan telah kami katakan bahwa sesuatu yang paling keji, paling fasik dan paling dusta ialah penjajahan terhadap pikiran, walaupun mereka melabelkan diri dengan kedok agama. Ini adalah perkara yang mencemaskan yang wajib diperhatikan dengan sangat jeli dan waspada oleh setiap anak bangsa manapun.
Hendaknya mereka menjauhkan negara mereka dari pikiran seperti itu, yang memisahkan antara keluarga mereka, yang mencerai-beraikan penduduk setanah air, yang mampu memecah-belahkan antara penduduk suatu Negara yang mengandung unsur kepentingan orang asing bukan kepentingan tanah air/bangsa.
Sungguh Nabi Muhammad s.a.w. telah menyebutkan itu semua, dan tidak ada suatu apapun kecuali Nabi Muhammad telah memberitahukannya. Beliau menyebutnya sebagai Fitnah Duhaimah, yaitu Fitnah Pemecah-Belah yang mampu mendobrak pikiran seseorang sehingga menjadikannya benci terhadap bangsa, penduduk, negara dan fitrah seorang manusia. Inilah fitnah pemecah belah yang mendobrak akal dan pikiran hingga mampu memisahkan antara bapak dan anaknya. Adakah ikatan yang lebih dekat dari ikatan bapak dengan anaknya? Memisahkan antara saudara dari saudaranya. Padahal ini adalah ikatan yang sangat kuat.
Coba anda pikirkan, bapak dengan anaknya dan sudara dengan saudaranya, di manakah mereka hidup? Bukankah mereka hidup dalam satu negara? Tapi fitnah itu mampu memisahkan mereka. Jika masyarakat telah pecah dengan cara seperti itu. Negara adalah suatu bangsa yang besar yang di dalamnya terdapat bangsa yang lebih kecil yaitu keluarga. Jika keluarga saja bisa dipecahbelah maka mudah untuk memecahbekah penduduk di negara tersebut.
Lantas apa yang akan terjadi di antara mereka? Mereka akan membawa faham yang muncul akibat penjajahan pikiran ini yang memakai kedok agama. Sebuah faham yang melegalkan peledakan, pengkafiran, pembid’ahan, pemfasikan kemudian penyembelihan. Mereka akan menyembelih saudaranya dan akan membunuh ibunya. Inilah yang telah dan sedang kalian dengar. Ini merupakan bahaya yang direncanakan oleh para penjajah yang telah mendatangkangkan segalanya ke negeri-negeri Islam kemudian mereka menjajahnya. Sehingga orang-orang Islam bergerak untuk membela negeri, diri, sumber daya alam, nilai-nilai luhur, agama dan kebudayaan mereka. Mereka para penjajah menegukkan bencana-bencana, menjajah pikiran orang Islam, menanamkan dan menyebarkannya ke semua negeri-negeri Muslim.
Hendaklah seorang ahli hukum berhati-hati jika dia memang seorang negarawan di manapun dia berkuasa baik dia presiden, mentri, penanggung jawab, gubernur atau siapapun saja yang berwenang begitu juga tentara, mentri pertahanan dll. Hendaklah mereka berhati-hati dari pikiran yang keji ini, pikiran yang menghancurkan negeri-negeri muslim dan menghancurkan landasan dasar setiap negara yang mereka masuki. Hendaknya mereka juga waspada akan pendidikan yang bersumber dari pikiran kotor seperti ini demi suatu kemaslahatan. Adakah maslahat yang lebih penting dibanding kemaslahatan negara? Dan tidak ada yang lebih penting dari kemaslahatan masyarakat yang hidup di negara tersebut. Mereka harus mempunyai jiwa nasionalis, kepekaan dan rasa kewarganegaraan yang tinggi yang telah ditanamkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. yang telah mendarahdaging dalam diri dan para sahabatnya.
Kalimat ini diminta oleh murid-murid kami di Kuliyah Imam Syafi’i yang berasal dari Indonesia. Karena hari ini adalah hari kemerdekaan mereka, hari pengusiran para penjajah dari negera mereka. Ini adalah suatu kebanggaan bagi kami karena hal ini termasuk pondasi agama Islam. Yakni seseorang harus mempunyai rasa bahagia dengan diusirnya para penjajah yang telah mendatangkan celaka dan bencana di negeri-negeri muslim.
Betapa besar perjuangan mereka orang Indonesia dalam melawan penjajah dan mengusir mereka, baik Belanda ataupun Jepang. Masyarakat Indonesia ini adalah masyarakat yang menerima dan menyambut Agama Islam dengan baik kemudian mereka menerapkan kandungannya. Sampai saat ini mereka masih merasa berhutang budi kepada ulama yang membawa Islam ke Indonesia dan mereka menghormati ulama itu dengan sangat mulia, ulama tersebut tidak lain adalah Wali Songo. Tidak satupun dari masyarakat Islam Indonesia kecuali mereka mengenal dan menghormati Wali Songo. Maka dari itu kalian akan tahu bahwa mereka mengerti akan hak seorang wali, ulama, orang-orang sholih dan serta hak Islam. Dan mereka tahu bagaimana hidup berwarganegara.
Hal ini jika mereka bersedia menjauhkan diri dari penjajahan pikiran yang terselubung di dalam jubah Agama Islam, baik itu pikiran Khawarij (Wahhabi/Salafi Palsu) maupun pikiran lainnya yang mana pikiran itu pada masa kini telah disebar ke semua negeri-negeri Islam untuk memecah belah Umat Islam dan agar mereka saling menyembelih.
Berapa banyak yang telah dipersembahkan oleh negara ini, memberikan generasi yang rela untuk mengorbankan jiwa dan arwah mereka agar negaranya terbebas dari penjajahan dan mereka telah berhasil. Bahkan orang-orang yang datang dari Hadhramaut juga ikut serta dalam barisan mereka, bersama mereka berperang saling bahu membahu. Karena seperti yang telah kita sebutkan bahwa negeri itu telah menjadi pengganti tanah air mereka. Begitulah semestinya apabila seseorang tinggal di suatu tempat, seyogyanya dia menganggap tempat itu adalah tanah airnya sendiri serta ikut melindunginya dengan segala hal yang berharga pada dirinya, baik itu ruh, harta dan lain sebagainya.
Ini adalah apresiasi dari anak-anak kami di Fakultas Imam Syafi’i yang berlokasi di Hadhramaut, Mukalla. Ikut serta merayakan peringatan pengusiran para penjajah dari negara mereka dan itu adalah “Hari Nasional”.
Pada masa ini apabila kita mengatakan “Hari Nasional” seakan-akan datang hari kiamat bagi mereka yang menganut pikiran Khawarij. Yaitu mereka yang mengembor-gemborkan kalimat bid’ah, syirik dan fasik serta kalimat lainnya kepada para generasi muslim di penjuru timur dan barat dan menjadikan Umat Islam saling menjauh. Mereka berkata: “Apa dasar dari perayaan hari Nasional?”. Maka kami jawab: “Dasar amalan ini kami ambil dari orang-orang yang menyambut Rasulullah s.a.w. (ketika hijrah ke Madinah), mereka menjadikan hari itu sebagai hari Nasional untuk mereka, hari yang merubah kehidupan mereka. Sedangkan hari ini (17 Agustus 2016) adalah peringatan hari terusirnya para penjajah dari negeri mereka (Indonesia) adalah hari yang sangat bermakna. Mereka mempunyai hak untuk berkumpul dan mengapresiasikan kegembiraan mereka pada hari di mana para penjajah itu terusir dari negeri mereka.
Begitu halnya Sayyidina Umar menjadikan hari hijrahnya Rasulullah s.a.w. sebagai hari Nasional, maka beliau mejadikannya patokan kalender dalam Islam. Apakah kalian tidak membaca, siapa yang mencetuskan Kalender Hiriyah?. Sedangkan dahulu orang-orang berpatokan pada penanggalan sebelum masehi dan sesudah masehi. Lantas siapa yang menjadikannya Kalender Hijriyah dan mencontoh siapa? Dia mencontoh Nabi s.a.w.. Sebab hari itu begitu bermakna, ketika masuk ke Madinah, sehingga beliau mengayomi masyarakat itu dengan ruh keimanan, cinta kasih, perdamaian dan saling bersaudara. Maka beliau (Sayyidina Umar) menjadikannya sebagai hari yang penting.
Tiap negara telah terbebaskan dari penjajahan yang tercela itu, tetapi masih ada penjajahan yang lebih tercala lagi, yaitu penjajahan pikiran. Maka sudah seharusnya para pejabat negara memahami hal ini, mereka harus memahami hal itu dengan sejelas-jelas pemahaman. Mereka harus mensucikan universitas, institut pendidikan serta tempat ibadah mereka dari orang-orang yang melenceng pikirannya. Yang mana mereka memecah belah persatuan Umat Islam. Penjajahan mereka sangat berbahaya sekali. Karena mereka adalah perusak segala bidang kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Maka pada intinya kami mendo’akan semoga bangsa Indonesia selalu diberi keberkahan pada hari nasional mereka. Dan sebaliknya pula, seperti dikatakan: “Segala hal yang berkaitan disebut secara beriringan”. Maka saya sebutkan bahwa kakek saya termasuk orang yang pindah ke Negara Indonesia. Kakek saya namanya Muhammad, Ayahanda dari Ayah saya. Beliau bermukim di Negara Indonesia, hidup dan wafat di sana. Beliau sempat mendapati penjajahan Balanda dan Jepang. Beliau termasuk orang yang ikut berperang. Beliau merupakan saudagar yang ikut serta mendanai peperangan untuk mengusir para penjajah. Sebab beliau tahu bahwa tempat tinggalnya saat ini telah menjadi tanah airnya, maka wajib baginya untuk ikut serta dalam melindungi tanah air tersebut walaupun dengan harta benda dan jiwanya. Beliaupun menjadi syahid di Kota Mojokerto. Kami telah mengunjungi tempat itu dan kami berkenalan dengan keluarga yang tersisa di sana. Mereka menceritakan kisah itu pada kami, bahwa beliau dulu termasuk mereka yang melawan para penjajah yaitu Belanda dan Jepang hingga beliau mati syahid. Maka dari itu saya ikut serta dengan warga Negara Indonesia dengan perkataan dan perbuatan saya dalam peringatan ini, karena saya punya teladan dalam hal itu.
Mari kita memohon kepada Allah agar menyempurnakan kedamaian dan kebahagiaan di negeri-negeri Kaum Muslimin. Serta menjaga mereka dari segala bentuk penjajahan baik itu penjajahan pikiran maupun badan. Semoga Allah melimpahkan Sholawat dan Salam atas Baginda Nabi Muhammad s.a.w beserta keluarga dan sahabatnya. Dan segala puji bagi Allah.
Catatan :
*Tulisan ini disarikan dari ceramah yang berdurasi 30 menit yang disampaikan oleh Syeikh Muhammad Bin Ali Bin Muhammad Ba’athiyah Pimpinan Ribath dan Fakultas Syariah Imam Syafi’i, Mukalla - Hadhramaut – Yaman, dalam rangka peringatan ke 71 kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau menyampaikan pidatonya dari Jeddah, Arab Saudi melalui Live Video Streaming dari Youtube pada hari rabu 17 Agustus 2016 yang kemudian ditulis oleh Tim Jurnalis Hai’ah Al-Masyhur, yaitu Persatuan Pelajar Indonesia di Ribath dan Fakultas Syariah Imam Syafi’i. Namun karena terkendala dengan bebepara ujian kuliah serta persiapan skripsi sehingga artikel ini baru bisa dipublikasikan.

Leave a Reply