Nyate Bareng Al-Masyhur
Malam mulai larut, awan-awan tipis mulai berlari menutupi Bulan Sabit yang tersenyum di atas bukit. Langit masih hitam, namun nampak indah dengan taburan bintang dan senyum lebar Rembulan. Nyanyian jangkrik begitu merdu melewati telinga. Kamar-kamar di Asrama mulai sepi, teman-teman mulai terlarut dalam peristirahatannya. Jam dinding terus berdetak, ia mendaratkan jarum pendeknya tepat di atas angka sepuluh.
Daging kambing baru saja tiba. Ku bangunkan beberapa temanku. Daging kambing yang masih melekat pada tulang-belulangnya itu perlahan aku gerogoti dengan pisau yang baru saja aku asah. Teman-teman mulai berhamburan memenuhi arena penusukan daging kambing muda ini. Satu ekor kambing Tarim.
Tak terasa tangan ini terus menari di atas papan kayu mengiris daging kambing satu persatu. Kawan-kawan menusukkan bambu runcing kecil itu perlahan demi perlahan tanpa mengenal rasa ampun. Kepala kambing yang telah terkupas kulitnya memandangi wajah kami penuh air mata darah. Entah dia merasa senang ataukah menyesal telah dipotong untuk para penuntut ilmu hari ini. Aku rasa itu tangis kebahagiaan.
Canda tawa mengiringi prosesi penusukan dagingnya yang merah dan sedikit alot itu. Jam dinding beranjak menempatkan jarum pendeknya antara angka satu dan dua. Pemotongan dan penusukan telah usai saudaraku. Ada 269 tusuk sate dengan komposisi 95% daging dan 5% gajih, 33 tusuk berkomposisi hati dan setikit daging, 25 tusuk berkomposisi jeroan dan 4 tusuk berkomposisi rudal. Semuanya untuk dinikmati 50 orang, esok.
Letih juga rasanya setelah sekian lama tak melakukan penusukan sate. Sate-sate itu telah memasuki ruang gelap dalam kulkas. Esok sore mau kita panggang untuk acara liburan di kolam renang yang dijadwalkan usai pkl. 2 dini hari. Suatu saat ibuku pernah berpesan saat menusuk sate : “Nak, potongan dagingnya jangan kecil-kecil. Ini untuk kita makan bukan kita jual”, begitu ungkapnya dahulu. []
Ditulis di Tarim, dalam sunyi tenang dalam hening malam oleh : Imam Abdullah El-Rashied. 6 Syawal 1437 H /11 Juli 2016.
Foto : Santri sekaligus Mahasiswa Ribath Wa Kullyat Al-Imam Asy-Syafi’i sedang menyate. Penulis bersarung hijau-hitam.

