Berlebaran Di Kota Tarim
Oleh : Imam Abdullah El-Rashied
Mahasiswa Fakultas Syariah - Imam Shafie College, Hadhramaut Yaman.
Sebagaimana maklum kita ketahui, Hari Raya Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi kaum Muslimin sekaligus merupakan Momen untuk berkumpul dengan keluarga dan menyambung Tali Silaturahmi kepada Kerabat, Kawan an Handaitaulan.
Bedahalnya dengan Lebaran di Negri Rantau, di mana bagi kami Para Pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Yaman tentu tidak memungkinkan untuk mudik ke Indonesia. Salah satu alasannya adalah Masa Belajar kami di Pesantren masih belum selesai dan agak susah untuk izin pulang kalau alasannya semata merayakan Idul Fitri di Tanah Air, bedahalnya dengan teman-teman kami yang hanya belajar di Universitas masih ada kemungkinan besar untuk mudik karena sejak pertengahan Sya’ban lanjut ke Ramadhan sampai akhir Syawal adalah masa libur kuliah. Alasan lainnya adalah karena mahal transport menggunakan Pesawat ke Tanah Air, khususnya bagi mereka yang pas-pasan.
Perayaan Lebaran di Yaman khususnya di Kota Tarim tak semeriah yang kita temukan di Indonesia, di mana di Indonesia sepanjang malam lebaran dihiasi dengan Kembang Api serta Konvoi untuk Takbir Keliling. Lebaran di sini (Tarim-red) terasa amat sunyi, bahkan lebih sunyi dari pada malam-malam yang ada di bulan Ramadhan. Hanya sebatas terdengar suara Takbir dari Speaker Masjid kemudian Langit Kota Tarim lengang tanpa suara Takbir menggema. Tak ada Kembang Api tak ada pula Takbir keliling.
Beberapa tahun lalu sempat ada teman-teman Pelajar Indonesia yang mencoba Takbir Keliling seperti Tradisi kita di Nusantara, akan tetapi hal ini mendapatkan respon kurang baik karena Adat di sini berbeda dengan Adat Nusantara. Akhirnya Takbir Keliling itu menjadi yang pertama dan terakhir.
Pada malam Idul Fitrih-nya kami mengeluarkan Zakat Fitrah berupa Beras yang juga menjadi makanan pokok di Kota Tarim begitu juga Yaman pada umumnya, walaupun Nasi hanya untuk makan siang dan acara-acara tertentu saja. Sedangkan untuk sarapan pagi dan makan malam, kebanyakan orang Yaman mengkonsumsi Roti yang terbuat dari gandum yang ditemani oleh Telor Ceplok atau terkadang Ikan, Selai kacang/stoberi dll. Nah, beras yang kami keluarkan sekitar 3KG seharga 70 Rial Yaman atau setara dengan Rp. 35.000. Zakat Fitrah tersebut dikumpulkan oleh Panitian Penyaluran Zakat setelah Sholat Isya’ untuk langsung diberikan kepada yang berhak. Setelah serah-terima Zakat Fitrah, karena tak ada kegiatan seramai di Indonesia akhirnya kami menggoreng ayam saja dengan sambal goreng Nusantara ditemani Mp3 Takbir Ust. Jefri Al-Bukhari, biar Sensasi Nusantara-nya lebih terasa.
Esok harinya, sekitar pkl. 06.00 pagi waktu setempat kami berangkat ke tempat pelaksanaan Shalat Idul Fitri di pusat Kota Tarim di sebuah Aula besar atau biasa disebut “Jabbanah” oleh orang Tarim. Selain digunakan untuk pelaksanaan Shalat ‘Ied, Jabbanah juga biasa digunakan untuk pelaksanaan Shalat Jenazah, hal ini dikarenakan mengambil pendapatnya Imam Abu Hanifah yang menyatakan Manusia itu menjadi Najis ketika mati, sedangkan memasukkan benda Najis ke Masjid itu Haram.
Ada sekitar 3.000 jama’ah memenuhi ruang utama Jabbanah, teras dan halamannya. Posisi Jabanah ini sendiri berada di samping Pemakaman Akdar, yaitu di seberang jalan Pemakaman Zanbal yang terkenal dengan makam Seribu Wali.
Pelaksanaan Shalat ‘Ied dimulai dari pkl. 07.00 waktu setempat kemudian dilanjutkan dengan Khutbah sampai pkl. 08.00, barulah setelah itu jama’ah bubar ke rumah masing-masing.
Ada hal cukup unik yang kami temukan di area Pelaksanaan Shalat ‘Ied, biasanya semua orang itu sibuk dengan menghadiri Shalat akan tetapi kami menemukan beberapa Penjual Mainan Anak dan Makanan Ringan sedari pagi memadati area sekitar Jabbanah. Nah, di antara kebiasaan orang Yaman adalah membelikan Mainan untuk anak-anak mereka di Hari Raya sebagai Hari Kebahagiaan bersama khususnya untuk anak-anak kecil.
Di sisi lain, biasanya Kaum Muslimah di ujung dunia manapun melaksanakan Shalat ‘Ied bersama dengan Kaum Lelaki di satu tempat sebagaimana yang nampak di Indonesia dan Negara Lainnya, bahkan di masa Rasulullah SAW sendiri para wanita dianjurlan menghadiri Pelaksanaan Shalat ‘Ied di barisan paling belakang, bahkan lebih jauh dari pada itu wanita yang haid juga dianjurkan untuk menyaksikan Pelaksanaan Shalat ‘Ied sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari Hadits no. 324, akan tetapi wanita yang sedang Haid tersebut berada di luar area tempat Pelaksanaan Shalat khususnya Masjid. Untuk di Tarim tersendiri memang Adatnya adalah para wanita lebih tertutup dan jarang keluar, bahkan untuk Shalat 5 waktu begitu juga Shalat Tarawih dan ‘Ied, hal ini tak lain karena berdasarkan Hadits Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik Shalatnya seorang perempuan adalah di rumahnya.
Setelah kami Konfirmasi ke salah seorang Staff Pengajar di Imam Shafie College yaitu Ustadz Ali Al-Habsyi yang berasal dari Tarim tentang tiadanya kaum wanita di area pelaksanaan Shalat ‘Ied, beliau menjawab : “Di satu sisi adalah untuk menghindari berkumpulnya laki-laki dan perempuan di satu tempat, karena bagi warga Tarim ini adalah hal yang tabu. Di sisi lain, Jabbanah atau Aula yang digunakan untuk pelaksanaan Shalat ‘Ied tidak mencukupi apabila ditambah dengan jama’ah perempuan, sedangkan untuk jama’ah laki-laki saja dari ruang utama, teras sampai ke halaman Jabanah penuh sesak dengan padatnya jama’ah”.
Biasanya, selepas pelaksanaan Shalat ‘Ied warga turut bersilaturahmi satu sama lain begitu juga menziarahi makam sebagaimana kita temukan di Indonesia. Hanya saja bagi kami Para Pelajar Indonesia yang ada di Yaman lebih memilih di Asrama saja sembari menyambung Silaturahmi dengan sanak famili yang ada di Indonesia menggunakan HP, ada yang sekedar sms-an, telpon, chatting maupun Video Call.
Ada hal yang sangat mencolok di hari ke 2 sampai ke 7 lebaran Idul Fitri di Tarim, di mana suasana Lebaran kembali lengang dan sepi seperti siang hari Ramadhan. Hal ini tak lain adalah dikarenakan semua warga Tarim sedang melakukan Puasa Sunnah 6 hari di Bulan Syawwal, sehingga semua aktifitas sejak tanggal 2-7 Syawwal sama seperti di Bulan Ramadhan hanya saja tak ada Tarawih di Masjid-Masjid pada malam harinya sebagaimana biasanya Tarawih di Tarim itu mempunyai jadwal berbeda antar Masjid mulai dari pkl. 19.30 waktu setempat sampai setengah jam menjelang sahur.
Sejak hari pertama sampai hari ke 3 lebaran kami hanya disibukkan dengan Silaturahmi Online dengan orang tua, saudara, kerabat, teman, handai taulan dll. Hingga memasuki malam ke 4 bulan Syawwal Syeikh Abduurahman Bamakhs yang merupakan Staff Pengajar sekaligus bagian Syu’unut Thullab (Urusan Mahasiswa, BP/BK) mengadakan acara Shalawatan mulai setelah Asya’ (makan malam) yaitu pkl. 21.00 sampai pkl. 23.00 waktu setempat bersama semua Mahasiswa dan segenap Pengurus.
Sepanjang acara Shalawatan dengan perangkat alat Hadrah ala kadarnya ditambah dengan Ember, Gelas, Panci dll agar kesannya semakin ramai dan sedikit mengingatkan kita pada Nusantara yang sering bershalawat dengan tabuhan Ember dkk.
Setiap santri menujukkan kemahirannya masing-masing, baik itu Munsyid (Vocalis), Penerbang (Penabuh Terbang alias Rebbana) dan penari Gambus, Zafin, Samman dan Tarian Sufi (Darwish). Semakin larut malam berlalu, semakin asyik pula teman-teman tenggelam dalam irama Shalawat khas Nusantara, mulai dari senandung Padang Bulan sampai senandung Lir Ilir turut meramaikan acara Shalawatan ini.
Ketika mendengar senandung Padang Bulan dan Lir Ilir, Syeikh dan segenap Pengurus hanya tersenyum tanpa faham apa yang kami senandungkan, sedangkan teman-teman kian asyik menabuh rebbana, ember, panci, piring dan gelas.
Tak hanya Takjub dengan senandung Shalawat Habib Syeikh dan Kanjeng Sunan Kali Jaga, Syeikh juga takjub dengan Seni Tari yang diperagakan oleh Para Pelajar Nusantara, mulai dari Tari Gambus dan Zafin yang memang budaya Arab, kemudian tarian Samman Ala Aceh yang cukup mengundang perhatian dan sedikit gelak tawa dari setiap yang hadir karena Tarian Sammannya agak sedikit ngawur alias tak sesuai Aturan Samman pada semestinya. Kemudian ada seorang Mahasiswa yang sekitar 4 kali maju di hadapan Syeikh dan hadirin dengan semua mata tertuju padanya, dengan mengenakan Jubah dan Peci Panjang, teriringi Alunan Shalawat berdendang, ia mulai menari berputar-putar sampai satu lagu selesai, yah itulah Tarian Shufi yang tak lain diperagakan oleh saya sendiri.
Keesokan harinya pada malam ke 5 Syawwal, Syeikh mengadakan lomba debat bahasa Arab dengan tema “Permasalahan-Permasalahan Sosial-Politik Kekinian di Indonesia”. Hal ini diadakan tak lain untuk mengisi kekosongan masa belajar selama libur lebaran serta membuka wawasan sosial-politik para Mahasiswa.
Lomba debat ini berlangsung mulai dari tanggal 5 syawwal dan berakhir pada 10 syawwal dengan total Grup yang bertanding adalah 8 Grup gabungan dari Mahasiswa Mustawa 1 sampai Mustawa 3 (semester 1-6). Setiap Grup terdiri dari 2 pembicara, sedangkan setiap pertandingan mempertemukan 2 grup dengan grup satunya sebagai pihak yang pro dan grup yang lainnya sebagai pihak yang kontra.
Pada babak penyisihan menggugurkan 4 grup yang kalah, adapun tema-tema yang dipertandingkan adalah sebagai berikut :
1. Berdakwah Dengan Musik dan Film.
2. Pro-Kontra Nahi Mungkar Ala FPI.
3. Wajibkah Menurunkan Pemimpin Kafir Yang Baik.
4. Setujukah Dengan Wacana Lokalisasi Prostitusi.
Setiap Mahasiswa baik di pihak Pro maupun Kontra memberikan Argumen masing-masing dengan penuh penekanan dan penguasaan pada materi yang dibahas. Setelah selesai babak penyisihan pindahlah kami pada babak Semi Final yang mempertandingkan 4 Grup yang telah lolos. Adapun tema yang dibahas adalah :
1. Setujukah Anda Dengan Wacana Jihad Ke Tolikara.
2. Setujukah Anda Dengan Sistem Demokrasi Pancasila Yang Berlaku Di Indonesia Sekarang.
Setelah babak Semi Final menyisihkan 2 Grup terbaik untuk bertanding di Grand Final, Syeikh memberikan Hadiah Spesial untuk para Mahasiswa yaitu berlibur di salah satu Kolam Renang di Tarim seharian penuh disertai penggelaran Grand Final di Area Kolam Renang. Adapun tema yang diusung untuk pertandingan akhir ini adalah “Setujukah Anda Jika Alumnus Yaman Masuk Ke Jajaran Pemerintahan”. Selama satu jam setengah perdebatan berlangsung sengit di hadapan Dewan Pengurus dan Mahasiswa Imam Shafie College di Area Kolam Renang Al-Maher - Tarim. Hujjah dan Argumen saling dilontarkan untuk menjatuhkan lawan, pesertapun diperkenkan untuk berbicara baik sebagai penanya maupun berkomentar atas Argumen yang dilontarkan oleh ke 2 Grup tersebut.
Itu adalah kenangan Lebaran ‘Iedul Fitri kami di tahun kemaren. Ada opor, ada pula kambing bakar. Insya Allah besok kami akan memanggang sate kambing di kolam renang Al-Maher pula seperti tahun kemaren. Pada tahun ini ada yang sedikit yang berbeda, di mana kami diizinkan untuk mengunjungi teman-teman kami yang ada di lembaga lain seperti Rubath Tarim dan Al-Ahgaff. Bahkan setelah Shalat ‘Ied kemaren saya sempat berkumpul dengan saudara-saudara saya dari pulau garam, Madura. Berkumpul di kolam reang Mahsun yang hanya berjarak 200 m dari Univ. Al-Ahgaff. Acara silaturahmi santri Madura tersebut berlangsung mulai dari jam 10.00 pagi hingga waktu Ashar. Ada acara renang, Bola Volly, PS dan makan-makan. Ada ayam penyet Madura beserta sambalnya yang luar biasa menghantam lidah ini dengan seleranya, Maknyus.
Di tahun ini pula, setelah Shalat ‘Ied di Jabbanah kami langsung menuju Pemakaman Zanbal untuk menziarahi para Wali Allah. Insya Allah di masa libur Syawwal ini kami akan mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah di Kota Tarim sesuai program liburan yang kami ajukan pada pihak kuliah.[]
Ditulis di Tarim, 5 Syawal 1437 H - 10 Juli 2016.
