Berbagai Tradisi Unik | Khusus Bulan Ramadlan di Kota Tarim Hadramaut Yaman

Kota Tarim Hadramaut adalah satu kota yang populer dengan mencetak beribu Waliyullah. Di kota yang dijuluki ‘Kota Seribu Wali’ ini, banyak sekali tradisi-tradisi yang unik, entah itu kegiatan yang bernuansa rohani, religi, atau selainnya. Terlebih lagi di bulan Ramadlan, pastilah sangat jauh berbeda dengan tradisi dan kebiasaan orang-orang Indonesia.

Berbicara mengenai keunikan-keunikan di kota ini, sangat banyak sekali, diantara yaitu Tarawih 100 Raka’at dalam Semalam. Kota ini yang populer dengan beribu-ribu Wali, itulah terkenalnya. Jadi tidak heran jika kegiatan yang dilakukan masyarakat kota ini begitu super. Kota kecil yang memiliki sekitar 350 masjid ini, menghembuskan nuansa rohani tersendiri bagi para pendatang. Terlebih lagi, setiap masjidnya mempunyai jadwal taraweh sendiri-sendiri. Ada yang taraweh dimulai dari jam 9, ada yang dimulai jam 11, 12, setengah 1, bahkan ada yang dimulai dari jam 2 malam. Jadi, dalam semalam bisa melaksanakan 100 rakaat sholat taraweh bagi yang semangat, mantep pokoknya.

Selain itu, ada pula tradisi acara Khotaman Al-Qur’an di beberapa masjid. Akan tetapi, yang paling unik adalah acara khotaman yang diadakan di masjid Al-Muhdlor. Khataman Al-Qur’an seperti biasanya membaca surat-surat pendek akhir Qur’an, uniknya, hal itu dilakukan setiap 4 hari sekali. Subhanallah.. entah waktu kapan saja membaca Al-Qur’annya. Serunya lagi, diwaktu acara tersebut, dapat secangkir Qohwah (kopi Arab) dan dapat pula Kacang Arab yang membuat suasana menjadi tidak membosankan. Maklum, karena acaranya sampai jam 2 malam, jadi memang dibutuhkan.

Kebiasaan di Indonesia, jika mendengar bunyi buka puasa, pastilah langsung meminum berbagai macam minuman, lalu langsung melahap nasi, itulah kebiasaan yang berlaku. Kalau masyarakat kota sini khususnya, dan penduduk Yaman pada umumnya, sangat berbeda tradisinya. Mereka berbuka puasa hanya demi mengganjal perut saja, yaitu hanya dengan memakan korma, meneguk minum secukupnya, lalu memakan gorengan ala kadarnya, hanya itu saja. Gorengannya pun hanya itu-itu saja, seperti Sambosa, Bakhomri, dll. Makan malamnya nanti sekitar jam 8-9, sebelum mengerjakan sholat taraweh.

Kegiatan yang lainnya adalah Ziarah Kubur bersama. Seperti pada umumnya, Ziarah Kubur dilakukan dengan membaca surat Yasin dll. Yang membedakan adalah suhu panasnya Provinsi Hadramaut yang seakan membakar kulit. Bahkan, saking begitu panasnya, air yang disimpan diatas rumah misalnya, kita orang Indonesia memanfaatkan hal itu untuk menyeduh mie tanpa menyalakan api lagi, di selain bulan Ramadlan, terlebih lagi panas di bulan Ramadlan. Akan tetapi, meskipun panas sebegitu panasnya, masyarakat dari berbagai kalangan berdatangan, dan terlebih lagi acara tersebut dilakukan setiap Jum’at sore, sungguh mantap dan ajib bener masyarakatnya.

Karena hawa dan musim panas yang begitu super yang menjadi faktor utama, yaitu berkisar antara 45-60 derajat celcius, tak ayal jika tradisi di kota ini, malam hari seperti halnya siang hari di Indonesia dan sebaliknya siang hari menjadi malam hari. Ketika malam hari, itulah waktu untuk beraktifitas, sholat taraweh, pasar baru buka, semuanya berlalu lalang di malam hari. Akan tetapi dipagi hari, jalanan nampak sepi, semua orang pada tidur, mencari angkutan pun tidak mungkin menemukan bagi para pelancong. Aktivitas mulai kembali yaitu pada sore hari, demi mempersiapkan buka puasa. Unik memang.

Dimuat oleh:
Koran Surya Surabaya edisi sabtu 2 Juli 2016.

Oleh: Moeslich El Malibary

Mahasiswa Fakultas Syariah - Imam Shafie College, Hadhramaut - Yaman.

Leave a Reply