Dua Merpati Dan Penaklukan Mesir

 

Disebutkan dalam ”Tarikh Al-Waqidi” :

”Bahwasannya Muqowqis sang penguasa Koptik di Mesir menikahkah Armanusa putrinya dengan Constantine putra Hercules. Ia telah membekali putrinya dengan sejumlah harta menuju suaminya, agar mereka bisa membangun rumah tangga di kota Kaisariyah (salah satu kota di Palestina). Armanusa berangkat menuju Bulbais (kota di provinsi Mesir timur) dan bermukim sesaat di situ. Di saat yang bersamaan Amr Bin Al-‘Ash memasuki kota Bulbais seraya memblokadenya dengan pengepungan yang dahsyat dan memerangi orang-orang yang ada di dalamnya. Sebanyak lebih dari seribu prajurit Muqowqis terbunuh. Orang-orang yang masih hidup melarikan diri menemui Muqowqis. Armanusa pun ditawan bersama dengan seluruh hartanya, semua kepemilikan Koptik yang ada di Bulbais disita. Hanya saja Amr masih memiliki rasa belas kasih kepada Muqowqis, lantas ia mengirim Armanusa kepadanya dengan cara yang terhormat beserta seluruh hartanya ditemani Qais Bin Abu Al-‘Ash As-Sahmi, Muqowqis merasa gembira dengan kedatangan putrinya…”.

***

Ini adalah yang ditulis Al-Waqidi dalam riwayatnya yang tak lain hanya berisi kabar peperangan dan penaklukan semata. Maka dari itu ia hanya menulis sebatas riwayat yang ia terima, adapun hal yang terluput darinya adalah yang akan kami kisahkan berikut ini (*):

Armanusa mempunyai seorang pelayan wanita blasteran yang bernama Maria, dia memiliki kecantikan Yunani yang dipoles dengan keanggunan Mesir, kecantikan dengan sentuhannya yang mampu menyihir siapapun yang melihatnya. Hanya saja sisi keindahan wanita Mesir lebih menampak di parasnya dari pada kecantikan wanita Yunani. Yah, Mesir memang mempunyai daya kecantikan yang khusus, yang terkadang ada sesuatu yang mengganjal namun kecantikan itu tetap terpancar. Keindahan yang mampu menawan. Akan tetapi, apabila sebuah keindahan itu lebih cendrung kepada asal yang asing, maka keindahan asing tersebut akan menghabisinya dan enggan untuk menjadi keindahan yang doniman. Kecantikan yang menjadikannya sebagai tanda perkumpulan antara latar Mesir dan asalnya dari Yunani. Menenggelamkan dengan sihirnya dan tak mau menjadi keindahan melainkan yang tertinggi.

Maria adalah seorang penganut Kristen yang taat dan cerdas, Muqowqis pun telah membuatkan Gereja untuk putrinya sedangkan ia adalah seorang penguasa sekaligus pimpinan agung di Gereja dari pihak Hercules. Di antaraa kejaiban takdir Tuhan adalah Penaklukan Islam tiba di masa Muqowqis. Sehingga Allah menjadikan hatinya sebagai kunci untuk membuka gemboknya Koptik yang mana gerbang-gerbangnya tak pernah ditembus kecuali hanya sedikit saja, terjadi peperangan yang tak begitu besar. Adapun gerbang-gerbang Romawi terus tertutup rapat dan terjaga, seolah-olah mengumumkan agar dirobohkan. Sedangkan di balik gerbang tersebut beridiri sebanyak 100.000 tentara Romawi yang bersiap memerangi Mukjizat Islam yang datang dari Jazirah Arab yang pada awalnya hanya 4000 pasukan hingga akhirnya bertambah dan tak melebihi dari 12.000 pasukan saja. Pada saat itu Romawi dengan 100.000 pasukannya dilengkapi dengan persenjataan perang yang memadai (sedangkan pada masa itu Meriam belumlah ditemukan), akan tetapi Ruh Islam telah membuat jiwa pasukan Arab seolah-olah adalah 12.000 meriam yang dilengkapi dengan mesiu dan peledaknya, mereka tidak memerangi dengan dengan kekuatan manusia akan tetapi dengan kekuatan Ruh Agama yang telah dijadikan oleh Islam sebagai bahan peledak menyerupai Dinamit sebelum Dinamit itu ditemukan.

Ketika Amr bersama pasukannya memasuki Bulbais, Maria tercekam dengan rasa takut yang sangat tak lain karena Romawi telah menyebarkan isu bahwasannya Bangsa Arab adalah orang-orang yang kelaparan yang telah dilempar oleh kegersangan ke berbagai negri, halnya pasir yang terombang-ambing oleh angin topan. Mereka adalah wabah belalang yang berwujud manusia yang tak pernah berperang melainkan untuk kepentingan perut mereka. Mereka adalah orang-orang yang tak berperasaan dan berhati keras seperti onta yang mereka tunggangi. Wanita di mata mereka dianggap seperti binatang yang diikat dengan segala kerendahan. Mereka adalah orang-orang yang tak bisa menepati janji. Banyak makannya namun tak ada amanahnya. Adapun panglima besar mereka yaitu Amr Bin Al-‘Ash adalah seorang mantan tukang jagal di masa Jahiliyah, jiwa jagal tak pernah meninggalkannya begitu pula tabiat buruknya. Dia telah datang memawa 4000 pasukan yang tega merobek kulit manusia, mereka adalah orang-orang yang kasar dan penuh dengan penyimpangan, mereka bukanlah 4000 pasukan yang mengenal kode etik dan aturan perang.

Maria kian tenggelam dalam kebingungannya, sedangkan adanya dia adalah seorang penyair yang telah belajar Sastra Yunani dan Filsafatnya berbarengan dengan Armanusa. Daya imajinasinya sangat berapi-api, menyala-nyala sehingga membuatnya merasakan rasa takut melebihi takut itu sendiri. Ketakutan yang berlipatganda di dalam jiwanya yang menggeretnya kembali pada watak kewanitaannya membuat rasa takut itu berubah menjadi kesedihan, kesedihan yang membuat ungkapan-ungkapan menyala di dalam darah.

Di antara kesedihan itu adalah kecemasan hati Maria yang telah dibuat cemas oleh rasa waswas. Ia hanya mampu meratapi jiwanya yang malang. Lantas ia membuat sebuah Syair yang terjemahannya sebagai berikut:

Telah datang empat ribu tukang jagal menemuimu, wahai kambing yang malang!

Setiap helai bulumu akan merasakan rasa sakit dari penyembelihan sebelum engkau diseembelih!

Telah datang empat ribu perompak, wahai gadis yang malang!

Engkau akan merasakan empat ribu kematian sebelum engkau mati!

Teguhkanlah aku wahai Tuhanku, sungguh aku akan menyelipkan pisau di dadaku untuk mencegah para tukang jagal itu!

Wahai Tuhanku, kuatkanlah gadis ini, agar ia bisa menikahi kematian sebelum orang Arab menikahinya!

***

Maria melantunkan Syairnya dengan suara kesedihan di depan Armanusa, lantas Armanusa tertawa mendengarnya seraya berkata:

”Engkau terlampau bingung hai Maria, apakah engkau lupa bahwasannya ayahku telah menghadiahkan putri Anshina (Maria Al-Qibthiyah) kepada Nabi mereka. Di mana Maria Al-Qibthiyah di sisi Sang Nabi berada di dalam kerajaan yang sebagiannya adalah langit dan sebagian laginya adalah hati?. Ayah telah mengabarkan padaku bahwasannya ia sengaja mengutus Maria Al-Qibthiyah untuk menyingkap hakikat Nabi tersebut dan agama yang dibawanya. Maria Al-Qibthiyah pun telah mengutus mata-mata kepada ayah untuk menginformasikan bahwasannya mereka orang-orang Islam hanyalah sebuah pemikiran baru yang akan meletakkan pembeda antara yang Haq dan yang Bathil di dunia ini. Nabi mereka lebih suci dari pada awan yang ada di langitnya. Mereka semua bergerak berdasarkan norma-norma agama mereka bukan berdasarkan hawa nafsu. Bilamana mereka menghunus pedang, mereka akan menghunusnya dengan aturan dan ketika mereka memasukkan pedang ke sarungnya itupun dengan aturan. Adapun tentang perempuan, andai kata seorang perempuan itu merasa takut akan kehormatannya dari ayahnya sendiri itu lebih berhak ia takuti dari pada ia harus takut akan kehormatannya dari sahabat Nabi ini. Mereka semua di bawah komando hati dan akal. Bahkan intisari Islam yang ada di dalam hati pengikutnya akan membuatnya memegang pedang yang akan ia tebaskan kepada leher temannya bilamana ia tahu bahwasannya temannya itu salah”.

Ayahku juga berkata: ”Mereka itu tidak memerangi bangsa-bangsa, mereka pula tidak memerangi layaknya seorang Raja yang tamak akan kekuasaan, akan tetapi mereka itu menjawab panggilan Syariatnya yang baru. Maju ke dahapan dunia membawa senjata dan akhlak, kuat di lahir dan batinnya. Di balik persenjataan mereka ada kemuliaan Akhlak, maka dari itu senjata merekapun juga mempunyai Akhlak”.

Ayah juga berkata: ”Sesungguhnya agama ini akan bergerak ke berbagai penjuru negri seperti mengalirnya getah di dalam pohon yang kering. Hal alami yang bergerak di alam. Getah yang tak lama lagi akan membuat dunia menjadi hijau dan memerikan naungan. Sebuah pergerakan melebihi pergerakan Politik yang kenyataannya adalah pohon kering yang dicat dengan warna hijau. Bedakanlah antara Islam dan Politik walaupun warna hijaunya ada keserupaan”.

Ruh Maria telah kembali tenang setelah mendengar penjelasan Armanusa seraya berkata: ”Kalau begitu tak masalah bagi kita apabila mereka menaklukkan negri ini dan tidak akan menjadi sebab marahabaya yang akan mengintai kita”.

Armanusa : ”Tak ada yang perlu dikhawatrikan hai Maria. Penaklukan ini tidak akan membawa keburukan bagi kita. Orang-orang Islam tak seperti kaum Imperialis Romawi yang hanya memahami dunia dengan ketamakan dan butuh kepada yang halal dan haramnya, mereka adalah orang-orang berhati keras seperti binatang buas. Adapun orang-orang Islam memahami dunia dengan pandangan Qona’ah (merasa cukup) serta mengambil yang halal saja. Mereka adalah manusia yang memiliki rasa kasih dan penuh menjaga harga dirinya”.

Maria : ”Demi ayahmu wahai Armanusa, sungguh ini sangat luar biasa! Socrates, Plato dan Aristoteles telah meninggal begitu juga para Filosof lainnya. Akan tetapi mereka tak mampu membuat orang lain terpengaruh dengan pendidikan tatakrama mereka selain buku-buku yang mereka tulis. Mereka tidak mencetak generasi dengan kesempurnaan sifat kemanusiaan, lebih-lebih akan melahirkan sebuah bangsa dan ummat sebagaimana engkau deskripsikan dari perangai Ummat Islam. Bagaimana bisa seorang Nabi mencetak Ummat sedemikian hebatnya sedangkan dia adalah orang yang buta huruf? Apakah kenyataan ini telah merendahkan pembesar Filosof, ilmuan dan para pemikir. Kemudian meninggalkan mereka membuat hal-hal yang sia-sia (mengarang buku Filsafat yang tak mampu mencetak bangsa bertatakrama) dan takluk di hadapan seorang lelaki yang buta huruf yang tak bisa menulis tidak pula membaca atau bahkan belajar sekalipun tidak?”.

Armanusa : ”Para ilmuan dengan tatanan jagat raya dan benda-benda ruang angkasa lainnya, bukan mereka yang menyingkap kegelapan dan menerbitkan fajar dan mentari. Aku pikir harus ada sebuah Ummat yang murni dengan kemurniannya tersebut membuat sebuah pemikiran ilmiah yang benar yang mampu mengantarkan dunia ke jalan yang benar. Aku telah mempelajari kehidupan Yesus, aktivitas dan zamannya. Sepanjang usianya ia habiskan untuk melahirkan Ummat ini (Islam), hanya saja ia sekedar mampu melahirkannya dalam lingkup dirinya sendiri dan pengikut setianya (Hawariyun) saja. Upaya yang telah ia lakukan adalah langkah awal untuk mewujudkan sesuatu yang sulit. Yah, setidaknya ia telah menciptakan peluang untuk mewujudkan Ummat yang dia impikan.

Nampaknya hakikat dari lelaki yang buta huruf ini (Muhammad SAW) adalah peringatan akan hakikat yang ada. Argumentasinya yang kuat telah menampakkan bahwa ia benar-benar di jalan Tuhan semesta alam. Ada yang lebih menakjubkan lagi wahai Maria, bahwasannya Nabi tersebut (Muhammad SAW) telah didustakan dan diinkari oleh kaumnya lebih jauh dari itu mereka berusaha membunuhnya. Itu sangat serupa dengan apa yang dialami oleh Yesus, hanya saja Yesus selesai sampai di situ saja saat kaumnya berupaya untuk membunuhnya. Sedang Nabi ini tetap teguh dalam pendiriannya mengahadapi semua yang terjadi, tak mundur selangkahpun tak pula bergeming sedikitpun. Lantas ia berhijrah dari kampung halamannya. Itulah awal langkah untuk menuju hakikat yang dengan hijrah tersebut seolah-olah ia mengikrarkan kepada dunia bahwasannya ia akan berjalan di penjuru dunia, dan pada hari ini kenyataan tersebut telah terwujud. Walaupun hakikat Yesus telah hadir di dunia ini, akan tetapi hakikat tersebut mengalir dengannya, inilah perbedaan yang kedua. Adapun perbedaan yang ketiga bahwasannya Yesus hanya diutus dengan membawa satu jenis ibadah, yaitu ibadah hati. Sedangkan agama ini (Islam), aku telah mengetahuinya dari ayah bahwasannya agama ini telah hadir dengan 3 macam ibadah yang menguatkan satu sama lain. Salah satunya ibadah untuk anggota badan, yang kedua adalah untuk hati dan yang ketiga adalah untuk jiwa. Ibadah anggota badan adalah mensucikannya dan menggerakkannya sesuai aturan yang bermanfaat baginya. Ibadah hati adalah mensucikannya serta mengisinya dengan cinta pada kebaikan. Ibadah jiwa adalah mensucikannya dan merendahkannya di jalan kemanusian (sosial). Menurut ayahku, dengan bagian yang ketiga ini mereka akan menguasai dunia. Mereka sekali-kali tidak akan memaksa sebuah bangsa untuk memeluk keyakinannya dan sesungguhnya kematian itu adalah sisi terluas dan paling indah jika dibandingkan dengan kehidupan”.

Maria : ”Demi Allah ini adalah rahasia tuhan yang menuntun ke jalanNya. Sebab di antara watak manusia adalah tidak akan tergugah tanpa mempedulikan kehidupan maupun kematian kecuali hanya sedikit saja, di mana tabiat manusia menjadi buta seperti kemarahan yang membuta, cinta yang buta dan kesombongan yang membabi-buta. Apabila Ummat Islam ini tergugah sebagaimana engkau sebutkan tadi maka tak ada lagi ungkapan setelah itu selain bahwasannya Islam adalah perasaan manusia dengan nurani yang tinggi dan ini adalah ujung dari puncak Filsafat dan Hikmah”.

Armanusa : ”Setelah itupun tak ada tanda-tanda lain selain engkau telah mempersiapkan dirimu untuk menjadi seorang Muslimah, wahai Maria!”

Mereka berdua tertawa bersamaan, kemudian Maria berkata: ”Sesungguhnya aku hanya mengungkapkan kata-kata yang membuatmu larut di dalamnya. Hanya saja aku dan kamu adalah dua pemikir bukan dua muslimah”.

***

Sang periwayat berkata: ”Romawi kalah di Bulbais, mereka berbalik arah menuju Muqowqis di kota Manfa. Sedangkan imajinasi Armanusa yang tertuang pada Maria selama blokade yang berlangsung sekitar sebulan ini seolah-olah menjadi sebuah pemikiran yang menempati pemikiran lain dan terus berkembang. Kata-kata yang telah menyingkap hakikat di dalam pikiran Maria dalam sastra dan filsafat. Seolah-olah pemikiran baru tersebut telah merubah otak Maria halnya seorang penulis merevisi bukunya. Pikiran yang membuahkan khayalan yang terus mendebatnya serta mendorongnya untuk terus pasrah dengan cara yang benar, karena pikiran baru ini adalah sebuah pikiran yang benar.

Di antara karakter kata-kata ketika meninggalkan kesan di dalam jiwa adalah dia akan menata ulang hakikat yang ada dalam jiwa yang kemudian memaksa untuk dihafal. Kata-kata yang dilemparkan Armanusa ke dalam pikiran Maria itu seperti ini: ”Yesus adalah permulaan dan setiap permulaan haruslah ada penyempurnaan, mau tidak mau. Sebab untuk memberi pelayanan kemanusiaan itu membutuhkan jiwa yang tinggi yang tidak peduli dengan ketinggiannya. Sedangkan sebuah bangsa yang menjadi rendah karena dunia dan hanya berpegangan dengan kehidupan secara culas dan pengecut dan penuh rasa tamak itu pada hakikatnya tidaklah mendapatkan apa-apa. Hanya mereka yang merendahkan dirinyalah yang akan mendapatkan segalanya”.

Hakikat Islam inilah yang telah merubah pikiran Yunani menjadi pikiran Arab. Ketika Amr hendak mengirimkan Armanusa kepada ayahnya, Maria berkata pada Armanusa: “Tak selayaknya orang semulia dirimu menjadi tawanan, di mana gerak-gerikmu itu terkendalikan. Aku punya usulan di mana hendaknya engkau mengajukan permohonan pada panglima tersebut sebelum ia mulai menggiringmu. Kirimlah utusan padanya bahwasannya engkau akan pulang menemui ayahmu dan mintalah kepadanya agar engkau dikawal dengan beberapa prajuritnya sehingga engkau menjadi seorang putri meski dalam sebuah tawanan dan perbuatlah sebagaimana engkau adalah putri raja”.

Armanusa : “Sungguh aku tak menemukan siapapun yang lebih baik untuk mengungkapkan itu semua selain dirimu dengan ucapan dan kecerdikanmu. Pergilah engkau menemui Panglima Amr Bin Al-‘Ash sebagai utusanku dan engkau akan ditemani Pendeta Syato dan beberapa pengawal dari prajurit kami.

***

Maria mengisahkan kepada tuan putrinya : “Aku telah mengantarkan pesanmu kepada Panglima Amr, dia bertanya :

Amr : “Apa anggapan tuan putri kepada kami?”

Aku : “Dia menganggap bahwasannya ini adalah pekerjaan seorang lelaki yang diperintahkan oleh dua hal, kemuliaan dan agamanya”.

Amr : “Sampaikanlah pada tuan putri sesungguhnya Nabi kami SAW bersabda: “Perintahkanlah (Ummat Islam) agar berbuat baik pada (penduduk) Koptik karena mereka mempunyai hubungan ipar (denganku) dan tanggung jawab”. Sampaikanlah bahwasannya kami sedang tidak melakukan invasi terhadap Koptik akan tetapi kami sedang menginvasi kepada jiwa-jiwa yang ada di dalamnya untuk menuju pada sebuah perubahan”.

Armanusa : “Cerikatan padaku cirri-cirinya, hai Maria”.

Maria : “Dia datang bersama pasukannya menunggangi kuda Arab. Kuda-kuda yang nampak bagaikan setan yang sedang membawa setan-setan dari jenis yang lain. Ketika ia semakin dekat denganku, Wardan penerjemahnya mendekat kepadanya. Dia menunggangi kuda merah kehitaman, berleher panjang dan memiliki poni layaknya wanita dan berekor panjang serta meringkik seolah-olah kuda tersebut ingin mengucapkan kata-kata…”

Armanusa memotong perkataannya : “Aku tak menanyakanmu sifat kudanya…”

Maria : “Pedangnya itu…”

Armanusa : “Aku tak juga bertanya tentang pedangnya, sifatilah ia sebagaimana engkau melihatnya tadi!”

Maria : “Aku melihatnya dengan perawakan tak terlalu tinggi yang menampakkan kekuatan dan kekokohannya. Kepala yang besar yang menandakan kuatnya pikiran dan keinginannya. Bermata lebar dan hitam pekat…”

Armanusa tertawa seraya berkata : “Menunjukkan apakah itu?”

Maria : “Mata yang berbinar menerangi wajahnya seolah-olah ada kemilau emas yang tertimpa sinar. Kekuatan yang terkumpul tenaga besar di dalamnya membuat semua yang melihat tercengang kepadanya. Tiap kali aku ingin menerjemahkan setiap goresan di wajahnya, wajahnya enggan untuk diterjemahkan selain untuk mengulang-ulang pandangan kepadanya…”

Kedua pipi Maria memerah. Itu adalah pembicaraannya dengan Armanusa dan ia berkata lagi : “Sebagaimana setiap kenikmatan tidak bisa diterjemahkan oleh jiwa melainkan terus menuntutnya untuk mengulang-ulang kenikmatan tersebut…”

Maria memejamkan kedua matanya kemudian berkata : “Demi Allah, dia itu sebagaimana yang aku ungkapkan padamu. Mataku telah penuh dengan memandang wajahnya, bahkan aku mengingkari kalau dia adalah manusia lantaran wibawanya yang telah menarik perhatianku..”

Armanusa : “Terkesima dengan wibawanya atau kedua matanya ^_^ ? ”

***

Armanusa kembali pada ayahnya dalam kawalan Qais. Ketika sudah di tengah jalan waktu Shalat Dzuhur telah tiba, Qais turun dari kudanya untuk melakukan Shalat bersama beberapa perajurit yang turut menemaninya sedangkan dua gadis tersebut hanya memandangi saja. Ketika mereka lantang meneriakkan “Allah Akbar….!”, hati Maria bergetar, lantas ia bertanya pada pendeta Syato : “Apa yang mereka ucapkan?”.

Pendeta Syato : “Kata-kata itu adalah pembuka mereka untuk masuk ke dalam Shalat. Seolah-olah mereka mengungkapkan pada dunia bahwasannya waktu sekarang ini mereka sedang tak ada keinginan dengan dunia, seolah-olah mereka mengumumkan bahwasannya sekarang mereka sedang berada di hadapan Dzat yang lebih besar dari pada semesta. Ketika mengumandangkan Takbir dan melepaskan segala keduniaan dan syahwat maka sejak itulah mereka memasuki Shalatnya. Seolah-olah mereka telah menghapus dunia sesaat dari jiwa mereka. Dengan menghapus dunia tersebut itu adalah kenaikan mereka dengan jiwanya di atas dunia ini. Lihatlah, tidakkah engkau lihat bahwa kata Takbir telah menyihir mereka, sehingga tak ada satupun di antara mereka yang menoleh pada sesuatu apapun. Ketenangan yang menyelimuti telah membuat mereka berubah tak seperti sebelumnya. Mereka begitu tenang dan khusyu’ melebihi para Filosof dalam renungannya”.

Maria : “Alangkah eloknya naluri Filsafat ini!, buku-buku Filsafat telah lelah untuk menundukkan penduduk bumi agar teduh tenang (khusyu’) di hadapan Tuhan, akan tetapi tidak berhasil. Sedangkan Gereja hadir menghiasi orang-orang yang berdo’a dan beribadah dengan berbagai macam ornamen, gambar, patung dan warna-warni agar mengimajinasikan sebuah ketenangan dalam jiwa mereka dengan ketenangan sebuah keindahan dan pensucian makna agama hanya saja hal-hal itu telah menghalangi suasana hati mereka pada suasana Gereja. Bagaikan orang yang menuangkan arak, jika dia tidak memberikan arak padamu maka dia tidak akan bisa memberikan rasa gembiramu. Di sisi lain siapa yang mampu membawa Gereja ke atas punggung kuda atau keledainya?”.

Armanusa : “Benar… Gereja itu seperti taman, taman yang selalu teguh di tempatnya yang tak pernah memberikan inspirasi kecuali di tempatnya tersebut. Gereja itu hanyalah 4 tembok yang saling menempel, sedangkan mereka orang-orang Islam tempat ibadah mereka adalah 4 arah mata angin”.

Pendeta Syato : “Akan tetapi, mereka orang-orang Islam apabila dunia telah mereka taklukkan kemudian mereka tergoda dan tenggelam di dalamnya, maka Shalat yang kalian lihat sekarang tak akan lagi mempunyai hakikat”.

Maria : “Benarkah dunia akan takluk di tangan mereka dan apakah mereka mempunyai panglima yang banyak seperti Amr?”

Pendeta Syato : “Bagaimana mungkin dunia tidak takluk pada sebuah kaum yang tidak memerangi bangsa-bangsa akan tetapi memerangi kedzaliman, kekafiran dan kerendahan yang ada di dalam bangsa tersebut. Mereka keluar dari padang pasir dengan watak yang sangat kuat seperti gelombang ombak yang sangat tinggi. Ombak yang di dalamnya hanya jiwa-jiwa yang terdorong untuk terus keluar, kemudian mereka memerangi bangsa-bangsa dengan naluri jiwa yang telah siap untuk menerobos ke dalam”.

Maria : “Demi Tuhan, kita bertiga ini seolah-olah telah menganut agamanya Amr”.

***

Qais telah selesai menunaikan Shalatnya dan hendak melanjutkan perjalannya. Ketika ia sejajar dengan Maria, seolah-olah Maria merasa Qais sedang pergi kemudian kembali. Mimpi-mimpi itu masih bertakhta di dalam hatinya. Mimpi-mimpinya lenyap di dunia ini kecuali mimpi akan Amr dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Amr. Dalam hidupnya kini ada tiga hal yang lenyap dengan kenyataan yang ada : mabuk kepayang, kegilaan dan tertidur. Dan dalam hal ini ada keadaan yang keempat yang turut lenyap kecuali dari satu kenyataan yang tertuang pada seseorang yang dicintai.

Maria berkata pada Pendeta : “Tanyakan pada mereka apa visi – misi mereka dalam peperangan ini dan apakah dalam politik mereka, yang menaklukkan itulah yang akan menjadi pemimpin di negri tersebut?”.

Pendeta Syato menanyakan hal tersebut pada Qais dan berikut adalah jawabannya:

Qais : “Cukup engkau ketahui saja bahwasannya seorang lelaki muslim hanya sekedar pelaksana dalam mewujudkan kalimat Allah, adapun bagiannya dari hal itu semua bukanlah di dunia”.

Pendeta Syato menerjemahkan perkataan Qais sebagai berikut : “Adapun sang penakluk kebanyakan mereka yang akan menjadi pemimpin atas negri tersebut. Peperangan ini menurut kami hanyalah sebuah pemikiran. Kesejahteraanpun akan diwujudkan di muka bumi. Bagi kami tak ada bagian apapun di dunia ini, maka dari itu jiwa ini lebih besar dari pada nalurinya. Naluri yang membalikkan dunia yang konyol dengan kerlap-kerlipnya seperti anak kecil di hadapan lelaki dewasa yang pada keduanya terdapat kekuatan untuk teguh dan goyah. Andai kata dalam keyakinan yang kami peluk bahwasannya balasan pekerjaan kami adalah di dunia, maka keadaannya tak akan seperti ini”.

Maria : “Tanyakan padanya, bagaimana bisa seorang Amr dengan pasukan yang sedikit ini mampu menaklukkan Romawi dengan pasukan yang tak terhitung?. Dan apabila Amr gagal dalam menjalankan ekspedisinya apakah mereka akan menggantikannya dengan yang lain? Dan apakah dia itu panglima terbesar yang mereka miliki?”

Sang periwayat berkata : “Saat itu kuda yang dinaiki Qais kian tak terkendali dan mempercepat lajunya mengejar kuda-kuda yang ada di depannya, seolah-olah dia berkata : “Ini bukan urusan kami untuk menjawabnya….”

Mesirpun ditaklukkan secara damai antara Amr dan penguasa Koptik. Romawi terpukul mundur memasuki Alexandria. Maria terus mencari-cari kabar sang Penakluk yang terus terbayang dalam fikirannya. Baginya Amr seperti sebuah kerajaan yang terbentengi dengan seorang penakluk dengan cinta yang telah menawannya. Badan Maria menjadi layu dengan wajah yang kian pucat, pandangannya kian memudar. Ruhnya kian haus, sedangkan keputusasaan telah mendekapnya dengan nafas yang membakar darah. Hati Maria mulai terluka karena di dalam jiwanya ada dua hal yang bermusuhan saling berperang, yaitu perasaan bahwasannya ia sedang jatuh cinta dan sebuah rasa lainnya yang menunjukkan keputusasaannya.

Armanusa merasa iba kepadanya, sedangkan ia juga sedang menggantungkan hatinya pada seorang pemuda Romawi (yaitu Constantine). Mereka berdua begadang semalaman, memutar-mutar pikiran bagaimana seandainya jika Maria mengantarkan surat kepada Amr, jika surat tersebut telah tiba padanya barulah setelah itu Maria bisa mengantarkan surat jiwanya dengan kedua mata kepalanya sendiri.

Sebuah pembicaraan yang turut memperbincangkan kabar dan nasab Maria Al-Qibthiyah dan segala hal yang berkaitan dengannya, karena hal ini adalah persoalan dari seorang wanita kepada wanita. Ketika mereka sudah memasuki waktu pagi sampailah kabar pada mereka bahwasannya Amr telah bergerak ke Alexandria untuk memerangi Romawi. Terdengar kabar pula bahwasannya di saat Amr memerintahkan agar tendanya dibongkar, akan tetapi saat pembongkaran terjadi telah mengenai seekor merpati yang sedang mengerami telor di atas tenda tersebut. Para prajuritnya mengabarkan pada Amr akan keberadaan merpati tersebut. Lantas ia berkata : “Alangkah malangnya merpati tersebut, biarlah tenda tetap berdiri hingga telurnya menetas dan anaknya bisa terbang”. Akhirnya merekapun membatalkan pembongkaran tenda panglima tersebut.

***

Tak lama setelah itu hingga Maria menuntaskan ratapannya. Armanusia sempat menghafal Syair yang dibuat oleh Maria yang dikenal dengan “Nyanyian Merpati”:

“Di atas tenda panglima terdapat merpati bertengger mengerami telornya.

Panglima meninggalkannya agar merpati mendapatkan kehidupan, sedangkan dirinya pergi membuat kematian!

Merpati yang serupa dengan wanita paling bahagia, melihat dan menyentuh mimpi-mimpinya.

Sungguh kebahagiaan seorang wanita itu seperti permulaan telor ini”.

“Di atas tenda panglima terdapat merpati bertengger mengerami telornya.

Andai dia ditanya akan telornya niscaya dia akan menjawab : Inilah harta karunku.

Dia seperti seorang wanita yang menguasai kerajaannya dalam kehidupan ini dan tak butuh apa-apa lagi.

Akankah aku akan memaksa semesta mewujudkan sesuatu apabila aku mencintai seorang lelaki?”.

“Di atas tenda panglima terdapat merpati bertengger mengerami telornya.

Mentari, Rembulan dan Bintang-Gemintang, semuanya Nampak kecil di matanya dibandingkan telornya.

Dia seperti wanita yang paling lembut, mnegenal kelembutan dua kali : Kelembutan dalam cinta dan kelembutan saat melahirkan.

Haruskan aku memaksa semesta dengan sesuatu yang banyak apabila aku ingin menjadi seperti merpati ini?”.

“Di atas tenda panglima terdapat merpati bertengger mengerami telornya.

Merpati berkata : “Sesungguhnya semesta ingin dilihat dengan dua warna dari mata seorang wanita,

Satu warna sebagai kekasih yang besar yaitu suaminya, warna lainnya adalahkekasih yang kecil yaitu anak-anaknya.

Segala sesuatu tunduk pada aturannya akan tetapi wanita tidak mau tunduk kecuali dengan aturannya sendiri.

“Wahai merpati, engkau belumlah mengenal panglima akan tetapi dia meninggalkan tendanya demi dirimu!

Begitulah kehidupan, sebuah keadilan yang berlipat di satu sisi dan sebuah kedzaliman yang berlipat di sisi lainnya (**).

Bersyukurlah pada Tuhan wahai merpati bahwasannya dalam kehidupanmu tak ada bahasa dan agama,

Kalian hanya mempunyai cinta, naluri dan kehidupan”.

“Di atas tenda panglima terdapat merpati bertengger mengerami telornya.

Merpati yang bahagia yang dalam sejarah akan tertulis seperti Hud-hudnya Sulaiman,

Hud-hud yang dikaitkan dengan Sulaiman dan kelak Merpati ini akan dikaitkan dengan Amr.

Aku sangat takjub padamu wahai Amr! Andai kata engkau mengetahui merpati lainnya…(***)”

***

Disadur dari Kitab “Wahyu Al-Qolam” cet. Al-Maktabah Al-‘Ashriyah – Beirut, Lebanon. Kitab ini adalah karya Mushtofa Shodiq Ar-Rofi’i, sastrawan Mesir yang hidup semasa dengan pembesar Sastrawan Lebanon yaitu Khalil Gibran.

Catatan tambahan :

(*) Cerita sebenarnya adalah kisah fiktif yang dibuat oleh Mushtofa Shodiq Ar-Rofi’i. Beliau mengahbiskan segala daya pikirnya dengan sentuhan sastranya untuk membuat kisah ini dan berusaha menghadirkan hakikat Islam dalam menjalankan ekpedisi peperangan dan hakikat kesamaan antara Muhammad SAW dengan Isa Al-Masih a.s. (Yesus). Kisah ini pernah dimuat di salah satu Majalah di Mesir di mana banyak para pembaca memeluk Islam setelah membacanya, hal ini sebagaimana disebutkan dalam catatan kaki artikel ini pada cetakan Daar El-Qolam, Damaskus – Suriah.

(**) Yang dimaksud keadilan di sini adalah keadilan Amr pada Merpati dan kedzaliman yang dimaksud adalah Amr sama sekali tak mengenal Maria dan tak memperhatikannya.

(***) Merpati lainnya yang dimaksud Maria adalah dirinya sendiri, ia berharap besar agar Amr mengenalnya dan mendapatkan perhatian layaknya Merpati yang mengerami telor di atas tendanya.

 

Ditulis di Tarim, Yaman. Sabtu 28 Sya’ban 1437 H / 4 Juni 2016.

Oleh : Imam Abdullah El-Rashied

Mahasiswa Fakultas Syariah - Imam Shafie College, Hadhramaut – Yaman.

Leave a Reply