Sebuah Mimpi Dari Langit: Sepenggal Kisah Kehausan yang Membakar Manusia di Padang Mahsyar dan Cara Menghalaunya

“Sebuah Mimpi Dari Langit”

-Sepenggal Kisah Kehausan Yang Membakar Manusia Di Padang Mahsyar Dan Cara Menghalaunya-

Oleh : Mushtofa Shodiq Ar-Rofi’i

Abu Khalid Al-Ahwal Az-Zahid berkata:

“Ketika istri guru kami meninggal, yaitu Syeikh Abu Rabi’ah seorang pakar Fiqih dan seorang Shufi. Aku pergi bersama orang-orang untuk turut menguburkan istrinya. Setelah orang-orang selesai menguburkannya dan meratakan tanah di atasnya, Syeikh kami berdiri di samping kubur istrinya dan berkata:

“Semoga Allah merahmatimu wahai istriku.

Saat ini engkau telah tersembuhkan dan aku menanggung rasa sakit, engkau telah terselamatkan sedangkan aku mendapatkan cobaan, kau tinggalkanku sedangkan aku terus mengenangmu dan engkau pergi melupakanku.

Dahulu duniaku penuh makna akan hadirmu, namun setelah kepergianmu duniaku tak kan lagi bermakna.

Dahulu kehidupanmu di sisiku adalah kekuatan hidupku, namun kematianmu telah membuat kekuatan itu melemah.

Dahulu kesedihan yang aku hadapi terasa sangat ringan dengan penghiburanmu, akan tetapi setelah hari ini kesedihan itu akan kian berlipat ganda dan terasa berat.

Dahulu keberadaanmu di sisiku menjadi tameng yang menghalau diriku dari segala kesusahan yang menghampiri, namun kali ini kesusahan itu akan kembali menghampiri.

Dahulu hari-hari yang berlalu selalu dipenuhi oleh kasih sayang dan cinta kasihmu, namun hari-hari itu akan menghampiriku dengan kehampaan dan kekosongan dari kasih dan cintamu, hari-hari yang begitu berat dan keras.
Sungguh demi Allah, tidaklah aku mendapatkan musibah darimu sebagai seorang wanita seperti wanita lainnya.

Yah, hanya saja aku diuji dengan wanita yang mulia yang aku rasa wanita tersebut terus menyayangiku”.

***

Abu Khalid berkata:

“Kemudian Syeikh kami melinangkan air matanya, ku pegang tangannya dan ku bawa ia pulang, sedangkan ia adalah orang yang paling paham dengan apa yang diucapkan orang-orang tentang bela sungkawa, dan ia juga sangat hafal tentang hal-hal yang diriwayatkan tentang bela sungkawa. Hanya saja perkataan-perkataan demikian mempunyai masa yang telah menghapus maknanya atau melemahkan maknanya. Hal ini tak lain karena jiwa yang tenggelam dalam keresahan yang mendalam. Mungkin karena ketakutan akan kematian atau sebuah cinta yang dihinggapi oleh bayang-bayang kematian, atau sebuah pengharapan yang dinaungi oleh cinta atau ketegaran yang dihinggapi oleh naungan pengharapan.

Dia teramat jauh dari pembicaraan bela sungkawaku hingga akhirnya kami tiba di rumahnya kemudian kami memasukinya dan tak menemukan seorangpun di dalamnya. Dia melihat ke kiri dan ke kanan, membolak-balikkan pandangannya ke sini dan ke sana sambil mengucapkan “Tiada daya dan upaya kecuali dari Allah, Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali padaNya”.

***

Kemudian Syeikh berkata:

“Sekarang rumah ini turut meninggal. Wahai Abu Khalid! sesungguhnya bangunan ini menjadi hidup dengan ruh seorang istri yang terus menerus bergerak di dalamnya dan ruh itu terus menjaga istri tersebut untuk suaminya. Ruh itu di mata suaminya laksana selendang sutera yang dikenakan istri pada tubuhnya.

Lihatlah! alangkah banyaknya matamu melihat pakaian wanita di tangan para pelelang di pasar dari pada engkau melihat ia (istri) dipakai oleh suaminya dan dia (suami) dipakai oleh istrinya. Hanya saja engkau tak kan memahami hal ini sama sekali, wahai Abu Khalid. Engkau adalah lelaki yang berpegang teguh untuk tidak mendekati wanita sama sekali dan agar wanita tidak pula mendekatimu. Engkau menyelamatkan dirimu dari mereka dan memutuskan hanya semata-mata beribadah pada Allah. Seolah-olah semua wanita di dunia ini turut serta dalam melahirkanmu sehingga mereka haram untuk kau nikahi. Inilah hal yang tak aku pahami melainkan hanya sedikit saja sebagaimana engkau tak memahami apa yang aku rasakan sekarang. Itu adalah dua hal yang berbeda antara orang yang berbicara dengan alami dan orang yang mendengarkan sambil mencoba memahami secara terpaksa.”

***

Kemudian aku berkata padanya:

“Wahai Abu Rabi’ah, apa yang mencegahmu sekarang untuk hidup dengan tulang punggung yang lebih ringan dan menyibukkan diri hanya dengan beribadah kemudian kau jadikan langit hatimu tersingkap dari mendung sehingga mentari mampu menyinarinya? Sedangkan saat ini engkau telah melepaskan segala bebanmu dan telah terputus hubungan dan kesibukanmu dengan wanita. Karena wanita itu sebagaimana disebutkan adalah jalan masuk setan kepada seorang lelaki meskipun wanita tersebut adalah wanita yang Sholehah di dalam rumah seorang lelaki (suami) yang ahli ibadah sekalipun. Walaupun lelaki yang ahli ibadah tersebut hidup dalam kedamaiannya bukan di dalam rumah yang terbuat dari bata dan bebatuan niscaya istrinya tetap akan menjadi celah bagi setan untuk menerobosnya.

Dahulu Nabi Adam a.s. tinggal di dalam Surga, sedangkan antara Surga dan Bumi terpisah oleh langit dan jagat jagat raya. Lantas apa yang mencegah Ruh dari pada Bumi untuk berhubungan dengan Setan, kemudian Setan mengelabui Hawa sedangkan Hawa terhubung dengan Nabi Adam a.s.. Kemudian Setan pun membuat tipu daya dengan mengemukakan permasalahan ilmiah hingga Hawa pun turut membuat tipu daya. Hawa pun membuat daya tarik dalam permasalahan tersebut, hingga masalah tersebut tak lagi menjadi masalah ilmiah melainkan tabiat dan rayuan.

فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءَاتُهُمَا

“Kemudian mereka berdua memakannya sehingga aurat mereka menampak pada mereka”. [QS. Thaha : 121]

Lalu, apakah lelaki dan perempuan berkumpul di bumi setelah keluar dari surga melainkan mereka akan merasakan keletihan hidup dan kesumpekannya, syahwat dan makanannya, mara bahaya dan kerusakannya dalam makna ayat:

فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءَاتُهُمَا

“Sehingga aurat mereka menampak pada mereka”?.

***

Wahai Abu Rabi’ah, kita berdua termasuk orang yang mempunyai perjalan batin di dunia ini selain dari perjalanan lahir. Dan kita termasuk orang yang mempunyai pergerakan pikiran selain dari pergerakan tubuh. Alangkah buruknya jika menggantungkan diri dengan hal yang paling rendah dari tipu daya dunia yang disebut dengan “wanita”, sungguh hal ini adalah kemunduran dan penurunan.

Mungkin engkau akan mengelak dengan alasan “Memperbanyak keterunan”. Yah, hal itu hanya diwajibkan pada manusia yang berpatokan pada tubuh dan anggota badan, sedangkan manusia yang berpatokan dengan hatinya tentunya dia memiliki makna dan hukum tersendiri. Sebab dia hidup dengan hatinya , sehingga tubuhnya turut hidup dengan aturan-aturan batin bukan hidup dalam aturan-aturan tubuh manusia semata.

Sungguh alangkah buruknya segala hal yang memindahkanmu pada tabiat orang-orang yang hanya memikirkan raga dan syahwatnya, sehingga hal yang menghiasi mereka turut menghiasimu dan turut menyibukkan dirimu apa yang menyibukkan mereka. Hal ini bagi kita adalah pintu dari berbagai pintu lelucon yang memindahkan seorang lelaki pada tabiat anak-anak, semoga Allah merahmatimu.

Saudaraku, hapuslah ruang istrimu dari hatimu. Penuhilah hatimu dengan cahaya, karena cahaya seorang ahli ibadah adalah cahaya yang mampu membawa perubahan kalau ia mau dan cahaya yang mampu memberi penglihatan jika ia berkenan. Yah, bisa melihat benda sebagaimana yang ia inginkan keberadaan benda tersebut. Sedangkan dirimu masih terus memikirkan seorang wanita, gantilah pikiran itu dengan Sholat dan berbuatlah dengan cahayamu berbeda dengan yang diperbuat oleh orang-orang yang hanya bertumpu pada raga dengan kegelapan mereka. Sebab di antara mereka ada yang melakukan sholat namun merubahnya (memikirkan) menjadi wanita”.

***

Abu Rabi’ah pun berkata:

“Demi Allah itu adalah ide yang bagus. Pada saat ini menjadi single lebih menentramkan hatiku dan lebih memfokuskan arahku. Allah telah melepaskanku dari beban yang aku pikul sebelumnya. Kuburan telah merenggut istri dan syahwatku secara bersamaan. Setelah ini aku akan hidup dengan sisa-sisa yang ada padaku. Kehilangan sesuatu pada jiwa ini adalah keberadaan sesuatu yang lainnya. Urusanku dengan istri dan kenangannya telah selesai menuju kuburnya. Sekarang adalah waktunya untuk berpaling dari itu semua.

***

Mereka berdua saling memberi kepercayaan satu sama lain agar berjalan bersama di Alam Batin dan agar hidup bersama dalam usia dengan masa yang terbatas ini dan untuk hidup bersama dalam kehidupan yang merupakan pemikiran yang terlukiskan.

***

Abu Khalid berkata:

“Akupun berpikir untuk menginap di rumahnya untuk menepati janji pelayananku untuknya dan untuk menghalau keterasingan yang akan mengganggunya, sebuah keterasingan yang akan memasuki jiwa dan pemikirannya dengan penuh kewas-wasan.

Hari ini kami telah tenggelam dalam kelelahan, Abu Rabi’ah pun sangat keletihan dan telah dikhianati oleh kekuatannya. Setelah kami selesai melaksanakan Sholat Isya’ aku berkata padanya: “Wahai Abu Rabi’ah, aku lebih senang jika engkau mengantuk kemudian beristirahat sejenak agar keletihanmu menghilang. Jika engkau telah merasa rileks nanti akan aku bangunkan dirimu di tengah malam agar kita bisa bertahajjud bersama”.

Tidaklah Abu Rabi’ah berbaring melainkan kelelapan telah mengelabuinya. Aku pun duduk memikirkan keadaannya dan apa yang semestinya ia lakukan. Aku pun berpikir tentang usulan yang aku sampaikan padanya hingga aku berkata pada diriku sendiri: “Mungkin aku telah membujuknya dengan sesuatu yang tidak ia sanggupi dan aku telah memberikannya isyarat dengan apa yang tak ada baiknya baginya, sungguh aku telah menipunya…”

Keraguan itu turut menghampiriku, aku pun membanding-bandingkan antara seorang lelaki yang telah menikah yang ahli ibadah dengan seorang yang ahli ibadah namun tidak menikah. Aku menimbang-nimbang salah satunya, antara dirinya, istri dan keluarganya, sedangkan yang satunya lagi hanyalah seorang lelaki yang sendiri. Aku pun datang dan pergi dari satu pemikiran ke pemikiran lainnya, sedangkan segala sesuatu di sekitarku kian hampa dan meredup, seolah-olah tempat ini ikut tertidur. Tidaklah aku berdiam beberapa saat hingga kelelapan turut mengambil pandanganku hingga aku tertidur dan terasa berat untuk bangun, seolah-olah diri ini telah diikat dengan tali penidur yang tiada seorangpun datang untuk memotongnya”.

***

Aku melihat dalam mimpiku seolah-olah berada di hari Kiamat dan orang-orang telah dibangkitkan dari kuburnya. Padang Mashsyar pun menjadi sempit karena kerumunan mereka dan aku berada di tengah-tengah kerumunan itu. Kami merasa seperti biji-bijian yang tergerus di antara batu penggilingan karena beratnya tekanan yang kami rasa.

Padang Mahsyar telah membuat kami seperti air yang mendidih di dalam panci. Kepayahan yang kian menjadi-jadi. Kehausan yang tak tertahankan lagi, hingga tidaklah satupun di antara kami yang memiliki hati melainkan seolah-olah api neraka bernafas menyentuh hatinya. Ini bukan sekedar rasa haus, akan tetapi kegilaan dan kobaran api yang membuat perut mendidih dan terbakar.

Saat kami terlanda oleh kepayahan yang seperti ini, tiba-tiba ada anak-anak kecil yang datang memecah kerumunan manusia yang berdesak-desakan di Padang Mahsyar. Mereka membawa sapu tangan dari cahaya, sedangkan di tangan mereka ada teko yang terbuat dari perak dan gelas dari emas. Mereka memenuhi gelas-gelas tersebut dengan air tawar yang sejuk. Melihat air tersebut membuat rasa haus kian menjadi-jadi dan membuat orang-orang menggeliat karena rasa sakit yang ia rasakan saat melihatnya dan membuat orang-orang meliuk-liuk seolah-olah isi perutnya disetrika.

Anak-anak kecil tersebut memberi minum satu-persatu dan membiarkan yang lainnya tidak diberi. Orang begitu banyak, namun sepertinya mereka memecah gerombolan tersebut karena mencari orang-orang tertentu. Mereka menyirami hati-hati manusia yang telah mendidih dengan air yang ada di teko tersebut, air, wewangian dan angin dari surga.

Salah seorang anak kecil itu berlalu di hadapanku, aku pun mengarahkan tanganku padanya seraya berkata: “Berilah aku minum, sungguh aku telah mengering dan terbakar karena rasa haus yang sangat”.

Dia berkata : “Kamu siapa?”

Aku : “Abu Khalid Al-Ahwal Az-Zahid…”

Dia : “Apakah kamu mempunyai anak kecil yang meninggal di waktu kecil, sehingga engkau mengharapkan pahalanya pada Allah?”

Aku : “Tidak…”

Dia : “Apakah kamu mempunyai anak yang tumbuh besar dalam ketaatan kepada Allah?”

Aku : “Tidak…”

Dia : “Apakah kamu mempunyai anak yang sempat mendo’akanmu dengan do’a yang baik, sebagai balasan hakmu padanya karena telah mengeluarkannya ke dunia?”

Aku : “Tidak…”

Dia : “Apakah kamu mempunyai anak selain mereka, akan tetapi kamu telah dibuat lelah karena mendidiknya dan telah menegakkan hak-hak Allah padanya?”

Aku : “Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya tiap kali akau berkata “Tidak” aku merasa kata “Tidak” itu berlalu di lidahku seperti setrika yang sangat panas…”

Dia : “Kami tidak akan memberikan minuman kecuali pada orang tua kami, mereka telah dibuat lelah oleh kami saat di dunia maka pada hari ini kami akan melelahkan diri untuk mereka di akherat. Orang tua - orang tua yang pada saat ini dihadapkan dengan anak-anak, tidaklah mereka dihadapkan dengan anak-anak itu melainkan dengan lisan yang suci untuk melindungi mereka di padang ini, sebuah tempat ditegakkannya Mahkamah kebaikan dan keburukan. Tidaklah ada di sini yang lebih lancar berbicara setelah lisannya para Nabi selain lisannya anak-anak. Sebab anak-anak tidak mempunyai makna dosa kalian yang membuat lisan tertahan atau menjadi gagap”.

Aku : “Kegilaanku kian menjadi-jadi, aku mencari-cari kata “Anak” seolah-olah kata tersebut telah terhapuskan dari ingatanku seperti terhapus dari keberadaanku. Kemudian aku mengingat-ingat Sholat, puasa dan ibadahku, sama sekali tidak terlintas di hatiku hingga anak kecil tersebut tertawa. Aku melihat dalam makna tawanya adalah tangisan, penyesalan dan rasa kecewaku.

Dia : “Celakanya dirimu! apakah engkau tak pernah mendengar :

رواه الطبراني ((إِنَّ مِنَ الذُنُوْبِ ذُنُوْبًا لَا تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَلَا الصِّيَامُ وَيُكَفِّرُهَا الْغَمُّ بِالْعِيَالِ))

“Ada beberapa dosa yang tidak bisa dihapus dengan Sholat dan puasa, akan tetapi bisa dihapus dengan kesumpekan karena keluarga”. HR. Thobroni,

Apakah engkau tahu siapa aku wahai Abu Khalid?

Aku : “Siapa engkau? semoga Allah merahmati kami karenamu”

Dia menjawab :

“Aku adalah anak dari lelaki yang fakir dan berkeluarga itu. Dahulu ayahku berkata kepada gurumu Ibrahim Bin Adham sang ahli ibadah yang zuhud itu: “Alangkah beruntungnya dirimu, engkau telah mengosongkan diri hanya untuk beribadah tanpa menikah”. Lantas Ibrahim bin Adham membalas: “Sungguh kesumpekan dan kepenatan yang engkau peroleh karena sebab keluarga itu lebih utama dari semua yang aku lakukan ini…”.

Sedangkan ayahku telah berusaha dengan sepenuh hati, pikiran dan raganya, dan memikul dengan dirinya sendiri beban keluarga. Dia berpikir untuk selain dirinya sendiri. Menjadi letih dan sedih karena orang lain, bekerja untuk orang lain dengan penuh keimanan dan kesabaran serta percaya penuh atas kekuasaan Allah saat ia menikah dalam keadaan fakir. Dan percaya dengan jaminan Allah saat ia dianugerahi anak dalam kedaan masih fakir pula.

Dia adalah seorang Mujahid yang berperang di banyak jalan, bukan hanya satu jalan sebagaimana dilakukan oleh prajurit perang. Mereka para prajurit mendapatkan gelar syahid hanya satu kali saja, akan tetapi ayahku mendapatkan gelar syahid satu kali setiap harinya. Dan pada hari ini pula maka Allah merahmatinya karena kasih sayang ayah kami pada kami di dunia.

Tidakkah engkau mendengar perkataan Ibnul Mubarak saat ia bersama saudara-saudara seimannya dalam peperangan:

“Tahukah kalian sebuah amalan yang lebih utama dari apa yang kita lakukan “.

Mereka menjawab: “Kami tak mengetahuinya”.

Ibnul Mubarak : “Aku mengetahuinya”

Mereka : “Apa itu?”

Ibnul Mubarak : “Seorang lelaki yang menjaga harga dirinya dalam keadaan fakir, ia memiliki keluarga. Dia terbangun di malam harinya kemudian melihat anak-anaknya yang tersingkap saat tidur, lantas ia menutupi mereka dengan pakaiannya. Tentu amalan itu lebih utama dari apa yang kita lakukan pada saat ini”.

Lihatlah wahai Abu Khalid, Ayah yang miskin tersebut melepaskan bajunya untuk anak kecilnya untuk menghangatkan mereka, sedangkan badannya sendiri tersentuh oleh udara dingin di malam hari. Wahai Abu Khalid, sesungguhnya kedinginan yang ia rasakan akan membuat Surga menjaga dirinya dari panasnya Padang Mahsyar. Seolah-olah rasa dingin tersebut adalah barang titipannya hingga harus dikembalikan padanya saat ini. Wahai Abu Khalid, perlakuannya dengan menyelimuti anaknya dengan pakaiannya itu di sini menjadi akan melindungi ayah yang miskin tersebut dari panasnya Jahannam”.

***

Abu Khalid berkata:

“Kemudian anak kecil itu berlalu meninggalkanku, sungguh aku tak sanggup lagi menahan diri ini. Lantas ku arahkan tanganku untuk mengambil teko itu dengan cara paksa dari tangannya. Tiba-tiba teko tersebut berubah menjadi tulang yang sangat besar dan melekat di telapak dan pergelangan tanganku hingga jari-jemari dan telapak tanganku tak lagi menampak dan menghilang. Teko itupun enggan untuk memberiku minuman, dan hal ini seolah-olah menjadi hukuman atasku. Tulang itu melekat di tanganku agar menjadi saksi atas kejahatanku tadi. Tiba-tiba keresahan dan rasa takut menghampiriku. Kemudian ku lihat ada teko yang terbang dari atas kemudian hinggap di tangan anak kecil tersebut, lantas ia berlalu dan meninggalkanku”.

Aku berkata pada diriku sendiri:

“Alangkah celakanya dirimu wahai Abu Khalid! Tidaklah aku melihatmu melainkan diperhitungkan amal baiknya layaknya pada pendosa diperhitungkan akan amal buruknya. Sungguh tiada daya dan upaya selain dari Allah”.

Tiba-tiba aku mendengar suara jeritan yang menakutkan :

“Di mana Abu Khalid Al-Ahwal yang ahli ibadah dan zuhud itu?”

Aku menjawab: “Ini aku!”

Kemudian ada yang berkata:

“Ada seekor merak surga yang telah dipotong ekornya, sungguh keindahannya telah menghilang! Mana ekormu dari anak-anakmu? Mana kebaikanmu pada mereka? Apakah wanita diciptakan untukmu agar engkau menjauh darinya? Apakah engkau diciptakan sebagai keturunan orang tuamu agar engkau berpaling dari dari keturunan?.

Engkau hadir dari kehidupan dengan berbagai hal yang tiada mempunyai kehidupan. Tidaklah engkau berbuat untuk kehidupan itu melainkan engkau melarikan diri darinya. Engkau telah mengalami kekalahan dari menemui kehidupan kemudian engkau berangan-angan agar mendapatkan pertolongan dari kekalahan tersebut?.

Keutamaan yang ada pada dirimu telah mengetahui jiwa dan perkembanganmu, hanya saja keutamaan tersebut telah mandul sehingga tak bisa berbuat apa-apa untukmu. Engkau menmpunyai sejuta rakaat dan sejenisnya dari Sholat Sunnah. Sungguh lebih baik dari semua itu adalah hendaknya dari tulang rusukmu keluar generasi yang bisa melakukan Rukuk dan Sujud.

Engkau telah membunuh kelelakianmu dan telah mengubur hidup-hidup keturunan itu dalam kelelakian tersebut. Engkau hidup sepanjang usiamu hanya menjadi anak yang besar dan tak pernah mencapai derajat keayahan. Walaupun engkau telah menegakkan syariat namun engkau telah mematahkan hakikat, walaupun…”

***

Abu Khalid berkata:

“Tiba-tiba di telingaku terdengar suara dengungan karena rasa takut yang berlebihan seperti suara tiupan sangkakala. Kemudian rasa lelapku menghilang, akupun terbangun sangat terkejut dengan hati yang berkeping-keping seperti orang yang terbangun dari pingsannya kemudian melihat dirinya berada di dalam kafan, di dalam kubur yang telah menutupinya.

Aku tak begitu melihat apa yang ada di sekitarku hingga cahaya Shubuh telah menerangi rumah dan aku melihat Abu Rabi’ah berbalik-balik seperti ada tangan yang menggulingkannya. Kemudian ia terbangun dengan hati penuh gelisah karena terkejut seraya berkata: “Apakah engkau ingin membunuhku wahai Abu Khalid, demi Allah apakah engkau ingin menghancurkanku?”.

Aku pun berkata: “Apa yang terjadi padamu? Semoga Allah merahmatimu”.

Dia menjawab:
“Aku telah tidur malam ini dengan niat tersebut (tidak menikah lagi) sebagai mana yang telah engkau ketahui. Yah untuk mengumpulkan hati ini hanya untuk beribadah dan melepaskan diri dari perempuan dan anak, serta terlepas dari kesusahan karena mengurus mereka dalam pahitnya kehidupan, terlepas dari kesibukan mebuat adonan roti setiap hari. Aku ingin berlepas diri dari kesusahan, kepayahan dan musibah mereka agar aku bisa mengosongkan diri hanya untuk beribadah kepada Allah sendirian.

Akupun meminta kepada Allah agar memberiku petunjuk dalam tidurku. Aku melihat dalam tidurku seolah-olah pintu-pintu langit telah dibuka. Aku melihat orang-orang turun dan berjalan di udara satu-persatu dengan sayap mereka. Setiap orang yang turun dari mereka menatap kepada diriku dan berkata kepada orang yang di belakangnya: “Dia adalah orang yang sial”. Kemudian yang lainnya turut berkata: “Ini adalah orang yang malang”. Orang yang lainnya ini juga melihatku kemudian menoleh ke belakangnya dan berkata: “Ini dia orang yang tertimpa sial”. Kemudian lain lain turut menimpali: “Ia, memang dia orang yang tertimpa sial”.

Kata “malang, sial” itu terus terucapkan hingga mereka berlalu, tak ada kata lain yang mereka ucapkan dan aku pun tak mendengar selain kata-kata itu saja. Saat itupun aku takut menanyakan mereka karena takut dari kesialan itu, akupun berharap orang sial yang mereka maksud adalah orang di belakangku yang mereka lihat namun aku tak melihatnya. Kemudian yang terakhir dari mereka berlalu di hadapanku, dia masih muda.

Aku bertanya padanya: “Wahai pemuda, siapa yang mereka maksud dengan orang sial itu?”

Dia menjawab: “Kamu!”

Aku : “Kenapa aku?”

Dia : “Dahulu setiap harinya kami mengangkat amalmu sebagai amalnya orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Kemudian setelah istrimu meninggal dan engkau bersedih hati karena belum bisa memenuhi haknya secara penuh. Kemudian kami mengangkat amalmu pada derajat lainnya. Namun pada malam ini kami diperintahkan untuk menempatkan amalmu bersama amalnya orang-orang yang lemah dan lari dari peperangan”.

***

Sesungguhnya kemuliaan seseorang dengan dirinya sendiri tanpa seorang istri dan anak adalah penerbangan ke atas. Akan tetapi penerbangan itu menggunakan sayap setan. Sebuah penerbangan yang dilakukan oleh seseorang ke kawah larva di tempat yang tinggi.

***

Catatan:

  1. Artikel ini adalah bagian ke enam dalam pembahasan nikah dengan maknanya yang tinggi. Menjadikan pernikahan sebagai pintu jihad untuk kebahagiaan manusia. Dalam artikel ini terdapat beberapa pandangan, ringkasan sebuah pemikiran dan kesan amal batin. Di mana tulisan tentang pernikahan ini telah berlangsung selama 2 bulan. Artikel ini seolah-olah menjadi penjelasan terhadap materi pernikahan tersebut.
  2. Artikel ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Prancis oleh seorang satrawan yaitu Felix Paris. Dan artikel inilah yang menjadi penyambung antara dirinya dengan Mushtofa Shodiq Ar-Rofi’i.
  3. Mushtofa Shodiq Ar-Rofi’i (1880-1937) adalah seorang sastrawan Mesir yang hidup semasa dengan Sastrawan besar Lebanon yaitu Khalil Gibran.
  4. Disadur dari Kitab Wahyu Al-Qolam karya Mushtofa Shodiq Ar-Rofi’i, hal. 300-308 jilid 1, cet. Dar Al-Qolam, Damaskus th. 2014.
  5. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh : Imam Abdullah El-Rashied, Mahasiswa Fakultas Syari’ah - Imam Shafie College, Hadhramaut - Yaman. Ditulis di Hadhramaut - Yaman, Jum’at 5 R. Tsani 1437 H - 15 Januari 2016.

Leave a Reply