Oleh : Imam Abdullah El-Rashied, Mahasiswa Fakultas Syariah - Imam Shafie College, Hadhramaut – Yaman.
Allah SWT menyebutkan dalam Firmannya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadar (kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu turun para Malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbitnya Fajar”. [QS. Al-Qadr ayat 1-5].
Dinamakan Lailatul Qadar karena agungnya kadar malam tersebut, sebab pada malam tersebut Allah memberi ketentuan dengan apa yang Ia kehendaki. Dan, Lailatul Qadar ini termasuk salah satu kekhususan yang Allah berikan kepada Ummat Islam saja. Di mana disebutkan dalam Surat Al-Qadr di atas bahwasannya Lailatul Qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan atau setara dengan 83 tahun. Keutamaan ini tak lain karena Usia Ummat Islam sangatlah pendek yaitu antara 60-70 tahun jika dibandingkan dengan Ummat-Ummat terdahulu.
Berikut ini beberapa Hadits seputar Lailatul Qadar:
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW beliau bersabda: “Barangsiapa beribadah di malam Lailatul Qadar karena Iman dan mengharapkan ganjaran dari Allah, maka ia akan diampuni dari dosanya yang lalu”. HR. Imam Bukhari no. 1901 dan Imam Muslim no. 760
Dari Aisyah r.a. beliau berkata: “Rasulullah SAW. sangat bersungguh-sungguh (dalam beribadah) di bulan Ramadhan tak seperti di bulan lainnya. Dan pada 10 akhir Ramadhan (lebih bersungguh-sungguh) tak seperti di hari lainnya”. HR. Imam Muslim no. 1175
Dari Ibnu Umar r.a. beliau berkata: “Sesungguhnya beberapa orang dari Sahabat Nabi SAW. bermimpi Lailatul Qadar dalam tidurnya itu pada 7 akhir (Ramadhan), maka Rasulullah SAW. bersabda: “Aku melihat mimpi kalian itu telah sepakat pada 7 akhir, maka barang siapa yang menginginkannya (Lailatul Qadar) hendaknya ia bersungguh-sungguh di 7 akhir (Ramadhan)”. HR. Imam Bukhari no. 2015.
Dari Ibnu Abbas r.a.: “Sesungguhnya Nabi SAW. bersabda: “Carilah Lailatul Qadar di 10 akhir Ramadhan, di 9 akhir, 7 akhir dan 5 akhir tersisa”. HR. Imam Bukahri no. 2021.
Dari Aisyah r.a. beliau berkata: “Dahulu ketika memasuki 10 akhir (Ramadhan) maka Rasulullah akan mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya dan memvangunkan keluarganya”. HR. Imam Bukhari no. 2024.
Dari Aisyah r.a.: “Sesungguhnya Nabi SAW. beri’tikaf di 10 akhir Ramadhan sampai Allah mewafatkannya, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelah (wafatnya) beliau”. HR. Imam Bukhari no. 2026
Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata: “Dahulu Nabi SAW. beri’tikaf setiap Ramadhan 10 hari, ketika tiba pada tahun di mana beliau dicabut (wafat), beliau beri’tikaf selama 20 hari”. HR. Imam Bukhari no. 2044.
Dari Aisyah r.a. beliau berkata: “Aku berkata : Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku menemui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan? Beliau bersabda: “Katakanlah : Allahumma Innaka ‘Afuwun Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Anna (Ya Allah sesungguhnya engkau Maha Pemaaf, mencintai maaf, maka maafkanlah saya)”. HR. Imam Tirmidzi no. 3513 dan Imam Ibnu Majah no. 3850
Habib Hasan Al-Kaff menyebutkan dalam Kitabnya Taqrirat As-Sadiidah hal. 446 : “Dalam hal ini (Lailatul Qadar) ada 40 pendapat, sedangkan Imam Syafii lebih condong pada pendapat yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar itu adanya pada malam ke 21 atau 23 Ramadhan. Sedangkan Mayoritas Ulama’ menyatakan pada malam ke 27, sebagian di antara mereka menyatakan bahwa Lailatul Qadar itu berpindah-pindah di malam 10 akhir.
Adapun Hikmah disamarkannya keberadaan Lailatul Qadar ini tak lain agar setiap malam di bulan Ramadhan itu dihidupkan dengan Ibadah. Di antara tanda-tanda malam ini adalah pada malam harinya cuaca dan keadaan Alam itu normal, sedangkan siang harinya Matahari bersinar keputih-putihan tanpa adanya kesilauan. Hal ini tak lain karena cahaya Malaikat yang naik-turun pada malam itu.
Bagi siapapun yang menemukannya, maka dianjurkan untuk menyimpannya sendiri (tidak mengabarkan yang lain), kemudian menghidupkan malam tersebut dengan berbagai Ibadah begitu juga keesokan harinya.
Sedangkan tingkatan dalam menghidupkan malam Lailatul Qadar itu dibagi menjadi tiga. Tingkatan Pertama adalah dengan melakukan berbagai Ibadah selama semalam suntuk, baik itu Shalat, baca Al-Qur’an, Dzikir, I’tikaf dll. Serta memperbanyak Do’a, lebih khusus lagi Do’a yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tingkatan kedua adalah dengan menghidupkan sebagian besar malam tersebut dengan berbagai Ibadah, khususnya mulai dari pertengahan malam sampai Fajar. Sedangkan Tingkatan paling rendahnya adalah dengan Shalat Isya’ dan Shubuh berjama’ah”.
Kesimpulan : Lailatul Qadar adalah satu malam yang pahalanya sangat besar, di mana Ibadah di dalamnya setara dengan Ibadah 10 bulan, bahkan dijanjikan pengampunan dosa kita yang telah lalu. Untuk itu di 10 akhir Ramadhan ini mari kita tingkatkan Ibadah kita khususnya di malam hari, tanpa membedakan apakah malam ganjil ataupun genap. Semoga kita dianugrahi Malam Lailatul Qadar pada Ramadhan ini dan semoga amal Ibadah kita diterima oleh Allah sebagai amal yang Ikhlas, Aamiin.
